Benarkah Logo Halal Disebut Terinspirasi Dari Penutup Kepala Pemuka Agama Katolik?

Logo halal baru bikinan Menteri  Agama Yaqut Cholil Qoumas dan jajarannya masih terus berpolemik di tengah masyarakat, teranyar logo yang berbentuk seperti gunung dalam  pewayangan itu disebut- sebut terinspirasi dari penutup kepala milik pemuka agama Katolik yakni  Mitra atau penutup kepala yang dikenakan uskup gereja.

Mitra, (Dari kata Yunani μίτρα, artiannya 'ikat kepala' atau 'sorban'), adalah sejenis penutup kepala yang sekarang ini diketahui sebagai penutup kepala seremonial dan tradisional para uskup dan beberapa abbas (kepala biara) tertentu dalam Gereja Katolik Roma, Komuni Anglikan, serta para uskup dan klerus lain tertentu dalam Gereja Ortodoks Timur, Gereja-Gereja Katolik Timur dan Gereja Ortodoks Oriental

Camelaucum atau καμιλαύκιον, leluhur dari mitra model Barat dan Tiara paus, mulanya adalah semacam kopiah yang dikenakan para pejabat Kekaisaran Byzantium. Menjelang belakang era Kekaisaran Byzantium, terjadi perkembangan bentuk mitra sehingga mendekati bentuk mahkota kekaisaran.

Di Eropa Barat, mitra pertama kali dipergunakan di Roma lebih kurang pertengahan zaman ke-10, dan di luar Roma lebih kurang tahun 1000. Mitra muncul dalam gambar kepada awal mulanya dalam dua lukisan miniatur dari permulaan zaman ke-11. Penyebutan mitra dalam tulisan kepada awal mulanya terdapat dalam Bula dari Paus Leo IX pada tahun 1049. Lebih kurang tahun 1150 penggunaan mitra telah menyebar pada uskup-uskup di seluruh Dunia Barat.

Dalam tradisi Kristiani Barat, mitra modern memiliki bentuk kopiah tinggi, terdiri atas dua anggota kembar (depan dan belakang) mirip gunungan dalam wayang kulit Bali, dan disatukan dengan jahitan pada kedua sisi. Anggota belakangan mitra dilengkapi dua pita lebar yang menjuntai ke punggung.

Menurut hukum kanonik Gereja Katolik Roma, yang berhak mengenakan mitra adalah semua uskup (termasuk paus) dan abbas. Para Kardinal sekarang ini biasanya adalah uskup, namun para kardinal yang bukan uskup dan telah diberi izin khusus kepada tidak ditahbiskan dijadikan uskup boleh mengenakan mitra. 

Pernyataan soal bentuk logo halal yang terinspirasi dari penutup kepala Uskup itu sempat bikin heboh jagat maya setelah akun Facebook @cebong dungu mengunggah foto kolase yang menunjukkan seorang Uskup Gereja disandingkan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas serta gambar logo halal yang baru itu.

Dari penelusuran, pernyataan yang menyebut logo halal terinspirasi dari penutup kepala Uskup adalah berita bohong yang sengaja disebar  orang tak bertanggung jawab, sebab Kementerian Agama dari jauh - jauh hari telah menegaskan bentuk logo halal itu diadaptasi dari gunung dalam pewayangan dan batik lurik.

Hal ini disampaikan langsung Kepala BPJPH Muhammad Aqil Irham, dia mengatakan logo halal baru itu mengadopsi nilai-nilai ke-Indonesiaan yang merepresantasikan nilai - nilai Islam. Logo halal baru menggunakan warna ungu sebagai warna utama logo dan hijau toska sebagai warna sekundernya. Lebih tepatnya, warna ungu Label Halal Indonesia memiliki Kode Warna #670075 Pantone 2612C. Sedangkan warna sekunder hijau toska memiliki Kode Warna #3DC3A3 Pantone 15-5718 TPX.

Bentuk Label Halal Indonesia terdiri atas dua objek, yaitu bentuk Gunungan dan motif Surjan atau Lurik Gunungan pada wayang kulit yang berbentuk limas, lancip ke atas. Ini melambangkan kehidupan manusia, kata Aqil Irham.

Dengan penjelasan dari Kementerian Agama, maka dapat disimpulkan bahwa informasi ini masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan).

Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

Sumber: populis.id

GEREJA KATOLIK

Gereja Katolik Berbentuk Kapal Ada di Pacitan

Gereja Katolik ini memang unik. Bentuknya identik dengan sebuah bahtera. Bangunan ini dirancang oleh mahasiswa universitas Katolik di Surabaya dengan memadukan apa yang menjadi pemikiran tentang nilai-nilai Kristiani terutama gereja Katolik. Baca Selengkapnya...

DOA KATOLIK

Doa Yabes

Inilah Doa Yabes, sebuah ungkapan untuk memohon berkat, perlindungan, penyertaan serta pengarahan Tuhan. Doa umat beragama Kristen Katolik ini ada didalam Alkitab, tepatnya pada injil Perjanjian Lama yaitu Tawarikh. Menurut Alkitab, jika dipanjatkan sungguh-sungguh dengan iman, segala permohonan yang diungkapkan melalui doa ini akan dikabulkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Baca Selengkapnya...

KATOLIK INDONESIA

Umat Katolik di Bali juga Melakukan Tradisi "Ngejot"

Hari Penampahan adalah sebutan untuk satu hari sebelum Hari Raya Galungan. Dalam hari itu, terdapat satu tradisi yang kerap dilakukan umat Hindu Bali yaitu ngejot. Menurut Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana I Gede Pitana, tradisi ngejot adalah aktivitas pemberian makanan kepada tetangga, baik itu sesama umat Hindu maupun non-Hindu sebagai rasa terima kasih. Ngejot dalam bahasa Bali memang berarti “memberi”. Baca Selengkapnya...