Gua Maria Sendang Sono, Tempat Ziarah Katolik Peraih Penghargaan Arsitektural

Ziarah, mengingatkan bahwa kita semua (Gereja) sedang dalam perjalanan menuju tanah air surgawi. Kita bergerak maju menuju kepada kepenuhan Kerajaan Allah pada akhir zaman.  Dalam Alkitab, waktu tidak dilihat seperti roda kehidupan atau perputaran nasib (seperti pandangan budaya Timur umumnya). Tetapi, waktu dilihat sebagai garis lurus yang bergerak maju, seperti halnya bangsa Israel yang keluar dari perbudakan Mesir dibawah pimpinan Musa.

Tantangan selalu menghadang di tengah jalan. Tetapi, mereka juga mengalami penyertaan dan pertolongan Tuhan. Demikian juga Gereja.

Di tempat ziarah banyak orang dari berbagai daerah dan (suku) bangsa berhimpun. Di sini nyata bagaimana semua (suku) bangsa dihimpun menjadi satu dalam Gereja. Karena Gereja merupakan kesatuan umat Kristen yang mengimani Kristus.

Salah satu tempat ziarah umat Katolik adalah Sendang Sono, dinamai berdasarkan letaknya. Sendang berarti mata air, sementara Sono berarti pohon sono, sehingga nama itu menunjukkan bahwa mata air  ini terletak di bawah pohon sono.

Dahulu sendang ini lebih dikenal dengan nama Sendang Semagung, berfungsi sebagai persinggahan para bhikku yang ingin menuju daerah Boro, wilayah sebelah selatan Sendang Sono. Namun, sejak 20 Mei 1904 atau kedatangan Pastur Van Lith yang melakukan pembaptisan pada  173 warga Kalibawang menggunakan air sendang, tempat ini mulai berubah fungsi sebagai tempat ziarah umat Katholik.

Untuk menuju ke Sendang Sono, harus melewati jalan berliku di kaki bukit Menoreh. Ada dua jalur ynag bisa dipilih.  Dari pusat kota Yogyakarta, bisa melewati Jalan Godean hingga Sentolo kemudian belok ke kanan. Atau melewati Jalan Magelang menuju pertigaan Pasar Muntilan, kemudian belok ke kiri. Jaraknya sekitar 45 kilometer, atau satu jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor.

Saat tiba di lokasi kompleks ziarah, akan ditandai dengan  sebuah pintu yang  dinding sampingnya terbuat dari batu. Pintu tersebut akan mengantar anda masuk ke kompleks ziarah yang luas dan rindang karena banyak pepohonan.

Kompleks ziarah, terbagi atas beberapa kapel kecil, lokasi Jalan Salib, Gua Maria, pendopo, sungai dan tempat penjualan perlengkapan ibadah. Memasuki kapel utama di kompleks ziarah ini, anda bisa melihat sebuah relief yang menggambarkan prosesi pembaptisan yang terjadi 102 tahun silam. Sementara memasuki Kapel bunda Maria dan Kapel Para Rasul, anda akan mengingat perjuangan Bunda Maria dan 12 rasul pertama Kristus.

Di dekat Kapel bunda Maria, terdapat makam Barnabas Sarikromo, sahabat baik Pastur Van Lith yang juga menjadi salah satu warga yang dibaptis pada tahun 1904 dan ditetapkan sebagai katekis pertama di daerah tersebut dan warga penggerak komunitas Katholik Sendang Sono. Sarikromo  dilahirkan pada tahun 1874. Ketika muda, ia menderita sakit kaki yang sulit disembuhkan. Ia pun berdoa dan berjanji untuk mengabdikan diri pada Tuhan jika kakinya sembuh. Hingga akhirnya Sarikromo bertemu dengan Pastur Van Lith  yang kemudian membantu pengobatannya ke seorang bruder hingga sembuh

Jalan salib pendek di Sendang Sono adalah ibadah untuk mengenang kesengsaraan Kristus memanggul kayu Salib. Di setiap pemberhentian jalan salib itu, anda bisa menyalakan lilin sekaligus berdoa dan mengingat peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan Kristus menuju Bukit Golgota, seperti saat kristus jatuh dua kali saat memanggul kayu salib, saat Veronica mengusap wajah Kristus dengan sapu tangannya hingga saat akhir menjelang kematian Kristus.

Ingin mencari ketenangan batin? Cobalah berdoa di depan Gua Maria yang terletak di belakang pohon sono. Banyak orang memanjatkan doa dengan bersimpuh dan menyalakan lilin di depan gua, dengan Patung Bunda Maria yang  didatangkan khusus dari Spanyol. Anda bisa juga menuliskan permohonan atau curahan hati anda dalam secarik kertas, lalu memasukkannya dalam pot tempat pembakaran surat dengan satu pengharapan, Tuhan mau  menerimanya.

Selain menenangkan diri dan berdoa, anda juga bisa menikmati keindahan arsitektur kompleks yang dirancang oleh Y.B Mangunwijaya Pr dan meraih Aga Khan Awards , sebuah penghargaan arsitektural yang ditujukan untuk menandai dan menghargai konsep arsitektural yang berhasil mewadahi keperluan dan aspirasi masyarakat, dalam jalur rancangan kontemporer dalam bidang pemukiman, pengembangan dan peningkatan lingkungan, restorasi, konservasi area, termasuk juga arsitektur lansekap dan pengembangan lingkungan.

Anda bisa duduk santai di pendopo sanbil menikmati bangunan sekeliling yang didominasi bahan batu, atau berdiri di jembatan kecil sambil menikmati gemercik air sungai yang mengalir di bawahnya Saat hendak pulang, jangan lupa mengambil air sendang dengan cara menuju keran-keran air yang terdapat di sisi kanan sungai. Membawa pulang air sendang dan meminumnya, dipercaya dapat mendatangkan berkah.  

Baca juga: Gua Maria Sumber Kahuripan - Paroki Santo Fransiskus Asisi Cibadak, Sukabumi

GEREJA KATOLIK

Candi dan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul

Untuk umat beragama Katolik tentunya sudah tidak asing dengan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran atau sering disebut Gereja Ganjuran. Gereja Katolik Roma ini berlokasi di Jalan Ganjuran, Sumbermulyo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55764. Tidak seperti Gereja Katolik lainnya, Gereja Ganjuran ini terkenal karena arsitektur yang bercampur dengan model arsitektur Hindu dan Jawa. Baca Selengkapnya...

DOA KATOLIK

Doa Yabes

Inilah Doa Yabes, sebuah ungkapan untuk memohon berkat, perlindungan, penyertaan serta pengarahan Tuhan. Doa umat beragama Kristen Katolik ini ada didalam Alkitab, tepatnya pada injil Perjanjian Lama yaitu Tawarikh. Menurut Alkitab, jika dipanjatkan sungguh-sungguh dengan iman, segala permohonan yang diungkapkan melalui doa ini akan dikabulkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Baca Selengkapnya...

KATOLIK INDONESIA

Inilah Sejarah Tentang “Anggur Misa” Di Indonesia

Anggur misa adalah sebuah istilah dari air yang berasal buah anggur yang diminum oleh Yesus bersama 12 murid-Nya pada Perjamuan Terakhir, yang tertulis dalam Injil Matius 26:17-29, Markus 14:12-25, Lukas 22:7-38, dan Yohanes 13:1-38. Itulah yang telah menjadi tradisi Gereja Katolik selama 2.000 tahun. Dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK), Kanon 924 § 3, disebutkan bahwa “Anggur haruslah alamiah dari buah anggur dan tidak busuk”. Buah anggur yang dimaksud adalah buah dari tumbuhan genus vitis, suku… Baca Selengkapnya...