Larangan Makan Daging Babi, Berdasarkan Aspek Geografis, Ritual Dan Identitas

Marvin Harris, seorang antropolog dalam karyanya, The Sacred Cow and the Abominable Pig: Riddles of Food and Culture, memberikan penjelasan secara lebih modern dan ilmiah mengenai pola dan kebiasaan babi dalam kaitannya dengan konteks alam (geografis) di mana mereka hidup.

Orang Israel kuno dan bangsa lain di Timur Tengah kuno menghindari babi lantaran tanah tempat mereka hidup tidak memberikan persediaan air yang cukup. Menurutnya, babi tidak hanya membutuhkan air yang berlimpah, yang jelas secara geografis sangat sulit ditemukan di Timur Tengah kuno. Babi akan berkembang biak dengan baik jika berada di area yang penuh hutan di mana mereka dapat mencari makan. Lantaran hutan juga amat jarang di Timur Tengah, babi juga sulit berkembang di sana.

Selain itu, babi juga gemar mendinginkan diri mereka dengan berkubang di lumpur atau di kolam yang dangkal. Lingkungan yang panas, kering dan tanpa tumbuh-tumbuhan sangat tidak mendukung untuk babi dapat bertahan hidup. Faktor geografis inilah yang tampaknya menjadi alasan mengapa makan daging babi dilarang.

Sebab, memelihara babi adalah pekerjaan yang amat merepotkan. Meskipun demikian pendapat Marvin Harris ini dapat dibantah. Sebab, ada bukti arkeologis dan tulisan yang menunjukkan bahwa mengembangbiakan babi di Timur Tengah bukannya tidak mungkin. Bangsa Filistin kuno telah melakukannya. Lepas dari sanggahan terakhir ini, secara alamiah babi lebih suka hidup dan mencari makan di area berhutan dan dekat dengan sumber air.

Masih berkaitan dengan faktor geografis, Brian Hesse dan Paula Wapnish dalam artikelnya ‘‘Can Pig Remains Be Used for Ethnic Diagnosis in the Ancient Near East?’’menegaskan, babi adalah binatang yang paling tidak toleran dengan kondisi panas dan tidak mudah digembalakan sepereti halnya domba, kambing atau ternak lainnya. Berkaitan dengan ini, Marvin Harris juga pernah berkomentar, ‘‘Bagi bangsa nomadik yang berprofesi sebagai penggembala seperti bangsa Israel selama beberapa tahun dalam pengembaraan mencari tanah….menggembalakan babi adalah sesuatu yang mustahil”. Di samping itu, dagi masyarakat zaman dahulu, babi dianggap memiliki nilai ekonomis yang kecil. Tidak seperti domba dan kambing yang susu dan bulunya masih dapat dipergunakan, daging adalah alasan praktis mengapa babi dikembangbiakkan.

 

Aspek Ritual

Selain aspek geografis yang menjadi dasar hipotesis mengapa ada larangan makan daging babi, aspek lain yang penting untuk ditelusuri berkaitan dengan larangan tersebut adalah aspek ritual.

Dalam Perjanjian Lama, sebagian besar teks yang berbicara tentang larangan makan daging babi terkait dengan masalah ritual. Secara lebih spesifik, hukum ketahiran (atau kemurnian atau kebersihan). Maksudnya, orang Israel dilarang makan daging babi supaya ketahirannya sebagai umat TUHAN (Yahweh) tetap terpelihara. Mary Douglas, seorang ahli dalam antropologi agama, dalam bukunya Purity and Danger: An Analysis of the Concepts of Pollution and Taboo, berpendapat bahwa larangan makan daging babi berhubungan dengan ide orang Israel tentang kekudusan, ketahiran, keutuhan dan normalitas. Hukum tentang makanan, termasuk larangan makan daging babi, dimaksudkan untuk meneguhkan ide tersebut. Douglas mengatakan: ‘‘menjadi kudus adalah menjadi utuh, menjadi satu; kekudusan adalah kesatuan, integritas, kesempurnaan setiap individu dan sejenisnya. Hukum tentang makanan dapat membangun metafor atau simbol tentang kekudusan dalam garis yang sama.” Menurut Douglas, babi tidak masuk dalam klasifikasi makanan yang mendukung gagasan kekudusan bagi umat Israel. Selain itu, fakta bahwa babi terkadang memakan bangkai dan bahwa orang bukan Israel memakan daging babi membuat daging babi menjadi makanan tabu (atau terlarang) bagi orang Israel.

Pendapat lain dikemukakan oleh Nicole J. Ruane, dalam artikelnya “Pigs, Purity and Paternity: The Multiparity of Swine and Its Problems for Biblical Ritual and Gender Construction” dalam Journal of Biblical Literature 134 (2015). Ia berpendapat, ketidaktahiran babi tidak terletak dari apa yang mereka makan, tetapi lebih pada bagaimana mereka kawin dan bereproduksi. Menurutnya, sejumlah masyarakat memiliki batasan-batasan kultural dan tabu berkaitan dengan reproduksi dan seksualitas. Dalam Perjanjian Lama, misalnya, baik seks maupun kelahiran adalah sumber ketidaktahiran secara ritual (Imamat 12; 15). Segala macam binatang yang dikategorikan bersih yang terdaftar dalam kitab Ulangan memiliki cara reproduksi yang berbeda dengan babi: mereka umumnya melahirkan satu atau dua anak. Tidak seperti sapi, domba, kambing, dan rusa atau sejenisnya, babi melahirkan banyak anak. Dalam dunia modern, rata-rata babi melahirkan 12 anak babi dalam sekali proses melahirkan. Pernah terjadi, seekor babi melahrikan 37 anak. Cara babi melahirkan anak tidak mirip dengan binatang yang tahir lainnya, dan juga tidak mirip dengan orang Israel (dan seluruh umat manusia). Dalam konteks reproduksi ini, babi tidak selaras dengan pola kehidupan komunitas Israel.

Selain itu, menurut Ruane, cara babi beranak pinak secara ‘masal’ tersebut membuat sulit untuk menemukan mana yang sebenarnya anak sulung, atau dalam tradisi Yahudi, anak pembuka bagi anak-anak lainnya. Dalam tradisi Yahudi, anak sulung dari binatang ternak yang berjenis kelamin laki-laki (dan juga manusia) sangat penting karena mereka adalah makhluk kudus sehingga harus dipersembahkan kepada TUHAN. Anak sulung sapi, kambing, dan domba akan disembelih untuk dijadikan korban bakaran atau diberikan ke tempat suci (Keluaran 13:12; Ulangan 15:19-20) atau diberikan kepada Lewi (Bilangan 18:15-17). Menurut kitab Ulangan, satu-satunya persembahan kepada TUHAN yang berupa binatang dan berbeda dengan persembahan pada pesta peziarahan lainnya, adalah anak sulung binatang yang berjenis kelamin jantan (Ulangan 15:19-21). Maka, anak sulung segala hewan ternak yang dikembangbiakan sebagai makanan bagi manusia harus dipersembahkan kepada TUHAN. Nah, mengingat sulitnya menentukan anak sulung babi karena melahirkan dalam jumlah yang besar, maka babi dianggap sebagai binatang yang tidak tahir dan dilarang dikonsumsi.

Fakta bahwa babi dapat menghasilkan banyak anak, mengarahkan orang pada sosok dewi kesuburan. Meskipun tidak ada bukti biblis yang melukiskan secara langsung polemik melawan peribadahan terhadap dewi kesuburan, tetapi gambaran kesuburan dan ritusnya berlawanan dengan konsep biblis tetang kesuburan sendiri.  Dalam Alkitab, kesuburan (binatang) betina – dan juga jantan – umumnya diminimalisasi dan dikontrol. Seks, kelahiran dan reproduksi lain dianggap tidak tahir dan harus dikontrol dengan berbagai ritual (lihat Imamat 12; 15). Dalam Alkitab, Yang-Ilahi (yang kerap diasosiasikan dengan maskulinitas) mengontrol rahim dan apa yang keluar daripadanya: “Segala apa yang lahir terdahulu dari kandungan, Akulah yang empunya, juga segala ternakmu yang jantan (Kel 34:19). Sejumlah teks Alkitab menekankan bahwa Yahweh sendirilah yang memiliki kuasa untuk membuka dan menutup rahim serta menciptakan apa yang ada di dalam rahim (misalnya, Kej. 20:18; 29:31; 30:2, 22; Ul. 28:11; 1 Sam 1:1-11; Mzm 139:13; Yes. 44:2, 24; bdk. Bil. 5:21-27). Gambaran tentang babi betina yang melahirkan anak banyak ini, menjadi tantangan gambaran kesuburan yang dikontrol oleh Yahweh dalam Alkitab.

 

 

Aspek Identitas

Satu aspek lain dari larangan makan daging babi dalam Alkitab adalah identitas orang Israel sebagai umat Yahweh. Umat Israel adalah umat kudus bagi TUHAN. Kudus di sini tidak harus dipahami secara moral. Kata ‘kudus’ – yang dalam bahasa Ibrani adalah kadosh (yang berarti terpisah atau berbeda dari yang lain) mengandaikan bahwa bangsa Israel dipisahkan oleh Yahweh dari bangsa-bangsa lainnya untuk tujuan dan maksud tertentu. Karena itu, larangan makan daging babi harus dipahami dalam konteks upaya bangsa Israel untuk membedakan dirinya dari bangsa-bangsa lain. Jika bangsa-bangsa lain makan daging babi, mereka tidak memakannya untuk menunjukkan identitas diri mereka yang khusus.

Jika berkaitan dengan upaya untuk meneguhkan identitas, terkadang penjelasan alasan atau latar belakang aturan dan larangan untuk memelihara identitas itu, tidak terlalu dipentingkan. Apalagi jika aturan dan larangan tersebut sudah masuk di ranah ritual. Menjadi agak tabu untuk mencari tahu apa arti dan maksud dari aturan dan larangan itu. Yang terpenting adalah pelaksanaannya dari aturan tersebut. Dalam hal ini, larangan makan daging babi mungkin memiliki banyak arti, atau mungkin juga tidak memiliki arti spesial. Fungsi utama dari berbagai ritual, termasuk tidak makan daging babi, adalah untuk menciptakan identitas, yang mencakup religius atau etnis.

Kasus yang sama juga dapat ditemukan dalam ritual sunat. Bagi orang Israel (atau Yahudi), sunat adalah penanda identitas. Sunat memisahkan mereka dari orang yang tidak bersunat. Sama halnya dengan larangan makan babi. Tujuan dari larangan makan babi tampaknya untuk menciptakan identitas religius dengan memisahkan diri dari mereka yang makan daging babi.

 

 

KESIMPULAN

Larangan daging babi dalam Perjanjian Lama harus dipahami dari berbagai macam perspektif atau sudut pandang, seperti geografis, ritual dan identitas bangsa Israel. Namun, yang paling kentara adalah bahwa larangan tersebut bermaksud untuk meneguhkan identitas bangsa Israel sebagai bangsa yang dipisahkan (dikuduskan) untuk Yahweh. Larangan itu pertama-tama ditujukan bagi bangsa Israel yang sedang membangun identitasnya, dan bukan untuk mereka yang lahir dan hidup dalam kultur lain di luar kultur Yahudi.

Sebenarnya, masih ada banyak studi mengapa ada larangan memakan daging babi dalam tradisi agama Yahudi (maupun Islam). Yang jelas, mereka yang berada di luar tradisi kedua agama ini, tidak harus melihat daging babi sebagai makanan yang dilarang. Sebab, setiap agama dan etnis memiliki caranya sendiri untuk membangun identitasnya.

Disadur dari tulisan Romo Albertus Purnomo, OFM, penulis buku, kolumnis, dan pengajar Kitab Suci di STF Driyarkara atau kursus-kursus Kitab Suci dan  Alumnus Pontificium Institutum Biblicum Roma dari hidupkatolik.com

Baca juga: Mengapa Ada Larangan Makan Daging Babi dalam Alkitab?

 

 

GEREJA KATOLIK

Gereja Katolik Berbentuk Kapal Ada di Pacitan

Gereja Katolik ini memang unik. Bentuknya identik dengan sebuah bahtera. Bangunan ini dirancang oleh mahasiswa universitas Katolik di Surabaya dengan memadukan apa yang menjadi pemikiran tentang nilai-nilai Kristiani terutama gereja Katolik. Baca Selengkapnya...

DOA KATOLIK

Doa "Bapa Kami"

Doa Bapa Kami adalah salah satu doa utama bagi umat Katolik, yang susunan katanya sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam karena mengandung pujian atau penyembahan, penyerahan diri, pertobatan sekaligus permohonan kepada Allah. Melalui doa ini, Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, karena kita semua telah diangkat menjadi anak-anakNya. Baca Selengkapnya...

KATOLIK INDONESIA

Pembaptisan Tahun 1931, Awal Mula Agama Katolik di Desa Tuka Bali

Masyarakat Desa Tuka yang berada di administrasi Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, menurut sejarah leluhur dahulu memeluk Hindu. Tpi kini mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik. Namun demikian, antara warga Hindu dan Katolik rukun berdampingan sejak puluhan tahun silam. Baca Selengkapnya...