Ritual Sedekah Bumi di Gereja Katolik Santo Servatius Bekasi, Semua Umat Memakai Atribut Pakaian Khas Betawi

Peci hitam, celana komprang hitam, baju sadaria putih, sarung merah dan golok bagi para bapak, sedangkan bagi para ibu menggunakan kerudung putih, sarung batik dan kebaya putih, adalah atribut pakaian khas Betawi. Pakaian tersebut biasa dikenakan umat di Gereja Katolik Santo Servatius Bekasi, setiap tanggal 13 Mei pada saat mengadakan ritual sedekah bumi dan pesta rakyat yang berlangsung selama misa dan setelah misa. Sedekah bumi pada  jaman dulu disebut sebagai Bebaritan, pada awalnya adalah ritual animisme yang dilakukan oleh warga Kampung Sawah untuk memohon keselamatan kepada denghaeng, dedemit, ataupun penunggu dari suatu daerah yang dianggap angker. Pada melakukan ritual tersebut, seluruh warga membawa makanan yang diolah dari hasil bumi mereka masing-masing dan berkumpul di tempat angker tersebut. Semua makanan yang dibawa kemudian disusun di atas daun pisang yang lebar sebagai alasnya.

Warga kemudian mengambil tempat dan berbaris sejajar dengan makanan tersebut. Kemudian pemimpin ritual membacakan rapal-rapal (mantra-mantra) dari ujung barisan, sebagai ungkapan syukur

Setelah pembacaan rapal selesai, seluruh warga menyantap makanan yang telah mereka susun sambil menyaksikan tari-tarian dan musik tradisional Betawi.

Namun pada tahun 1936,  untuk pertama kalinya, bebaritan atau upacara sedekah bumi dilakukan oleh Pastor Oscar Cremer dan umat Paroki Santo Servatius Kampung Sawah. Walaupun ritual tersebut dilakukan secara sederhana, yaitu pemberkatan panen dan pembagian sebagian hasil panen tersebut kepada penderep.

Penderep adalah orang-orang yang membantu pemilik sawah untuk memetik hasil panennya. Ritual tersebut untuk selanjutnya dilakukan dalam bentuk penyerahan persembahan dari warga gereja yang hadir ketika ekaristi dilaksanakan. Para anggota Paroki Santo Servatius menyerahkan hasil bumi berupa kelapa, durian, nangka, rambutan, singkong, padi, dan sebagainya secara langsung di dalam misa di gereja.

Peristiwa tersebut menjadi cikal-bakal ritual sedekah bumi di Paroki Santo Servatius, yang dilaksanakan secara rutin setiap tanggal 13 Mei.

Sejarah dari nama Paroki Santo Servatius, juga terjadi di tanggal ini. Tepatnya ada tanggal 13 Mei 1996, yaitu pada hari peringatan Santo Servatius, sebanyak enam pria dan enam wanita asli Betawi dilantik sebagai anggota perkerabatan Santo Servatius.

Perkerabatan Santo Servatius merupakan bentuk penghidupan kembali tradisi kuno dalam gereja Katolik yang mengungkapkan iman para anggotanya melalui bentuk-bentuk lahiriah untuk nilai-nilai spiritual (seperti fraternity atau conferia).

Santo Servatius, yang sering kali namanya diperpendek menjadi Servas, adalah seorang misionaris Katolik dari Asia yang juga turut serta dalam kegiatan misi Katolik di Eropa Barat. Sumber tertulis tertua tentang Santo Servatius berasal dari tangan Gregorius dari Tours yang pada abad keenam mengarang tentang berbagai tokoh gereja dan telah memperkenalkan Injil di wilayah Gallia.

Servatius adalah uskup pertama Tongeren, ibu kota Tungri, yang saat ini berada di wilayah Belgia.Pada abad keempat, wilayah tersebut merupakan sebuah provinsi kekaisaran Romawi yang bernama Germania Secunda. Seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang Kristen dengan cepat mendapatkan tanah di wilayah tersebut.

Pada tahun 311, Kaisar Galerius telah mengakhiri penganiayaan besarnya dan kaisar lainnya, yaitu Konstantinus Agung menjadi sangat disukai oleh Gereja. Pada tahun 343, Servatius hadir di dalam Konsili Serdica. Di dalam konsili tersebut Servatius bertemu dengan para pengikut Arius dari Alexandria yang menekankan Yesus Kristus sebagai manusia dan di pihak lain banyak pula yang menolak pandangan tersebut. Konsili ini pun pada akhirnya mengalami kegagalan.

Perkerabatan Santo Servatius di Gereja Katolik Santo Servatius Bekasi bertujuan untuk melayani dan memperkenalkan devosi terhadap Santo Servatius yang relikwinya akan ditempatkan di dalam gereja tersebut.

Pada tanggal 13 Mei 1996 pula, untuk pertama kalinya grup musik tanjidor tampil di tengah anggota jemaat. Nyanyian jemaat pun digubah sesuai dengan nada lagu Betawi yang sebagian besar digubah oleh Marsianus Balita.

Upacara tersebut ditutup dengan makan bersama di halaman gereja dan di Warung Servas (singkatan dari Servatius) yang terletak di seberang gereja.Pelantikan tersebut dilakukan bersamaan dengan ritual sedekah bumi yang menjadi ciri khas paroki Santo Servatius.

Ritual sedekah bumi di paroki Santo Servatius berlangsung selama misa dan setelah misa. Selain berbagi hasil bumi berupa makanan khas Kampung Sawah seperti kue abug, singkong rebus, kacang rebus, dll, acara juga dimeriahkan dengan lagu-lagu Benyamin S.

Dalam ritual ini juga dilakukan pembuatan dodol (ngaduk dodol), yang dimulai sejak  sejak dini hari dan dilakukan selama tujuh jam. Proses pembuatannya menggunakan kayu rambutan atau pelepah kelapa agar tidak menimbulkan banyak abu. Selain itu, api yang digunakan untuk memasak adonan dodol harus dijaga agar tetap kecil dan tidak padam

Makna dari kegiatan ngaduk dodol ini tidak terlepas dari syarat-syarat dalam proses pembuatannya. Syarat pertama adalah syarat kultural yang dibagi menjadi dua macam yaitu sugesti dan pengendalian. Bentuk sugesti yang dilakukan adalah dengan menepuk kuali sebanyak tiga kali sambil mengajukan permintaan agar dodol jadi dalam waktu yang telah ditentukan, tetapi apabila tidak jadi sesuai dengan waktu yang ditentukan maka dodol tersebut akan dihanyutkan ke sungai yang mengalir.

Bentuk pengendalian yg dilakukan selama pembuatan dodol adalah menjaga agar adonan tidak terlalu encer. Sedangkan orang yang boleh mencicipi kole (dodol setengah jadi) adalah orang yang dianggap paling tua di paroki tersebut.

Gereja Santo Servatius Kampung Sawah dapat dikatakan merupakan paroki yang sebagian besar umatnya beranggotakan warga Kristen Katolik asli Betawi yang tinggal diwilayah Kampung Sawah. Oleh sebab itu para anggota gereja ini masih menjalankan budaya betawi, termasuk  penggunaan bahasa dan kosa kata Betawi.

Cikal  bakal para penganut agama Katolik di tempat ini memang memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada akhir abad XIX, sebagian besar warga Kampung Sawah adalah penganut agama Islam.  Walaupun demikian,  ritual-ritual animisme masih sering mereka lakukan, terutama bila mereka memasuki tempat-tempat yang dianggap angker. Wilayah Kampung Sawah saat itu menang masih berupa hutan belantara.

Perpaduan antara budaya Betawi dengan kekristenan sebenarnya sudah terjadi sebelum masuknya Katolik ke Kampung Sawah, yang dilakukan oleh Meester Anthing, orang Protestan pertama yang berhasil masuk ke dalam budaya Betawi. Ia berhasil mendirikan jemaat di Kampung Sawah dan berhasil memadukan ritus-ritus budaya Betawi yang menitikberatkan pada ngelmu dan hal-hal mistik lainnya, dengan kekristenan.

Sayangnya hal tersebut dianggap sinkretisme, yaitu suatu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama. Hingga pada akhirnya praktik-praktik tersebut mulai memudar. Uniknya beberapa anggota jemaat masih menggunakan doa Bapa Kami dalam bahasa Betawi,  untuk melindungi mereka di tempat-tempat angker.

Paroki Santo Servatius Kampung Sawah sendiri merupakan sempalan dari Gereja Protestan Kampung Sawah yang dirintis oleh Meester Anthing. Pada tahun 1895 jemaat Protestan Kampung Sawah terpecah menjadi tiga fraksi yang saling bermusuhan. 

Fraksi pertama adalah kelompok guru Laban yang bermarkas di Kampung Sawah barat, fraksi kedua adalah kelompok Yoseh yang mengadakan kebaktian di Kampung Sawah timur dan fraksi ketiga adalah kelompok guru Nathanael yang memilih Katolik Roma untuk masuk ke Kampung Sawah.

Guru Nathanael sendiri melakukan hal tersebut setelah ia dipecat dari jabatan guru pembantu di Gereja Protestan Kampung Sawah. Ia kemudian mencari bantuan ke gereja Katedral yang berada di Lapangan Banteng, Jakarta.Pada tanggal 6 Oktober dianggap sebagai hari kelahiran umat Katolik Kampung Sawah (sebutan awal untuk Paroki Santo Servatius Kampung Sawah) setelah Pastor Schweitz membaptis 18 anak di Kampung Sawah.

Sumber: wikipedia 

GEREJA KATOLIK

Gereja Katolik Berbentuk Kapal Ada di Pacitan

Gereja Katolik ini memang unik. Bentuknya identik dengan sebuah bahtera. Bangunan ini dirancang oleh mahasiswa universitas Katolik di Surabaya dengan memadukan apa yang menjadi pemikiran tentang nilai-nilai Kristiani terutama gereja Katolik. Baca Selengkapnya...

DOA KATOLIK

Doa Yabes

Inilah Doa Yabes, sebuah ungkapan untuk memohon berkat, perlindungan, penyertaan serta pengarahan Tuhan. Doa umat beragama Kristen Katolik ini ada didalam Alkitab, tepatnya pada injil Perjanjian Lama yaitu Tawarikh. Menurut Alkitab, jika dipanjatkan sungguh-sungguh dengan iman, segala permohonan yang diungkapkan melalui doa ini akan dikabulkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Baca Selengkapnya...

KATOLIK INDONESIA

Umat Katolik di Bali juga Melakukan Tradisi "Ngejot"

Hari Penampahan adalah sebutan untuk satu hari sebelum Hari Raya Galungan. Dalam hari itu, terdapat satu tradisi yang kerap dilakukan umat Hindu Bali yaitu ngejot. Menurut Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana I Gede Pitana, tradisi ngejot adalah aktivitas pemberian makanan kepada tetangga, baik itu sesama umat Hindu maupun non-Hindu sebagai rasa terima kasih. Ngejot dalam bahasa Bali memang berarti “memberi”. Baca Selengkapnya...