Cerita Dibalik Swasembada “Anggur Misa”

Memang bukan perkara mudah, menyediakan anggur untuk ibadah misa umat Katolik di Indonesia. Selain punya standar khusus, anggur misa juga diatur dengan rigid oleh Vatikan. Anggur misa yang digunakan di Indonesa pada awalnya adalah produk wine ari spanyol, yang impornya telah berlangsung 500 tahun. Pada tahun 1974, keperluan anggur misa untuk perayaan Ekaristi Gereja Katolik di Indonesia diimpor dari kebun anggur Sevenhill Cellars, winery yang dibangun pada abad ke-19 oleh imam Jesuit asal Austria di Lembah Clare, Australia Selatan. Gagasan tentang swasembada anggur misa pertama kali dicetuskan olah wartawan Floribertus Rahardi dalam tulisannya di Tabloid Kontan pada awal tahun 2000-an.

Wacana tersebut kembali muncul, dalam Sidang Sinodal KWI pada awal tahun 2010. Meskipun para uskup belum memberi rekomendasi terhadap usulan swasembada itu, upaya penjajakan swasembada anggur terus dilakukan sejak 2010. Contohnya adalah workshop anggur misa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 30 April 2011. Namun tak ada kelanjutannya lagi.  Gereja menganggap industri dan standar anggur di Indonesia belum siap.

Sementara itu, proses impor anggur misa semakin sulit akibat ketatnya regulasi impor minuman beralkohol di Indonesia. Mulai dari proses permintaan rekomendasi di Kementerian Agama agar bebas bea masuk, menentukan jumlah produksi, negosiasi harga produk, pengurusan dokumen, pengiriman hingga  ke distribusi kepada  37 keuskupan di Indonesia diperlukan waktu sekitar satu tahun. Harganya juga semakin mahal karena harus dibayar dengan valuta asing.

Belum lagi soal bagaimana pemerintah tak begitu paham soal peribadatan umat Katolik. Anggur misa dipandang sama dengan minuman beralkohol pada umumnya. Menurut Romo Agustinus Surianto Himawan, petugas petugas Bea Cukai di lapangan seringkali bingung melihat puluhan ribu liter minuman keras impor tiba di Indonesia.

Akibatnya, KWI memutuskan untuk mengubah periode impor yang biasanya tiga tahun sekali menjadi dua tahun sekali, yakni pada 2012, 2014, 2016, 2018 dengan jumlah 61.600-70.400 liter sekali impor.

Titik terang permasalahan terjadi pada Rapat Presidium KWI bulan Agustus 2016, ketika wacana swasembada anggur misa produksi kembali hadir. Romo Agustinus yang saat itu  mengepalai Departemen PSDM-PU-TG KWI, yang salah satu tugasnya adalah mengurus ketersediaan anggur misa, berhasil meyakinkan KWI bahwa gagasan untuk swasembada anggur misa harus segera direalisasikan.

Umtuk itu, KWI kemudian membahas tiga permasalahan yang harus dipecahkan soal ide swasembada anggur. Yang pertama adalah mengenai kemampuan winery di Indonesia (soal mutu dan standar). Kedua adalah sustainabilitas untuk memasok semua kebutuhan anggur misa secara nasional sebanyak 33.000-44.000 liter per tahun. Dan yang ketiga tentang  harga, yang belum tentu bisa kompetitif bila dibandingkan impor.

Selanjutnya dibentuk Tim Swasembada Anggur Misa yang dipimpin oleh Mgr. Petrus Boddeng Timang (mantan Ketua Komisi Liturgi KWI, kini Uskup Banjarmasin), dibantu RD Agustinus Surianto Himawan (Kepala Departemen PSDM-PU-TG KWI), RP Ch.Harimanto OSC (Wakil Ketua Komlit KWI), RD Yohanes Rusae (Sekretaris Komlit KWI), dan Floribertus Rahardi yang menulis di Kontan awal 2000an.

Mereka menjajaki kerjasama dengan winery lokal, melakukan diskusi panjang, dan studi banding ke beberapa pabrik anggur. Anggur dari pabrik-pabrik tersebut juga diuji dan diaudit menggunakan beberapa laboratorium, terkait kandungan alkohol, kandungan kimiawi, dan kualitas anggur secara umum.

Hasilnya, dalam Sidang Sinodal KWI pada November 2017, 34 dari 37 uskup yang hadir menyetujui untuk mulai menjajaki penggunaan anggur misa lokal untuk peribadatan di gereja Katolik. Uji coba dilakukan dengan menggunakan anggur misa lokal sebesar 50 persen sedangkan 50 lainnya masih menggunakan anggur impor.

Untuk anggur misa lokal,  diputuskan untuk memilih  produk dari PT Sababay Industry, yang memiliki winery di Gianyar, Bali. Dengan Kapasitas terpasang 2 juta liter per tahun, Sababay dinilai mampu memenuhi  kebutuhan anggur  untuk delapan juta umat Katolik di Indonesia sebanyak 35.000 liter per tahun.

Cerita Dibalik Swasembada Anggur Misa Untuk Ibadah Katolik di Indonesia

Setelahnya, Tim Swasembada pun melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan pihak PT Sababay Industry. Berbagai diskusi, studi literatur, dan survei langsung ke pabrik di Gianyar dan kebun anggur di Gerokgak dan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali Utara dilakukan.

Usai berbagai persiapan matang, baru dimulailah produksi perdana anggur misa oleh Sababay pada Mei 2018. Empat bulan kemudian, pada 21-23 September dilakukan pengetesan oleh Tim Swasembada untuk memastikan anggur misa yang memiliki citarasa yang mirip dengan anggur misa impor. Selain itu, diuji pula apakah seluruh proses produksi mengacu pada ketentuan yang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik sehingga dapat menghasilkan anggur misa yang halal dan memenuhi syarat.

Baru pada 27 November 2018, pernyataan Nihil Obstat untuk anggur misa Sababay ditandatangani Mgr. Petrus. Dan Indonesia akhirnya Mampu Swasembada Anggur Misa.

Baca juga: 

Artikel terkait

Gua Maria Bukit Kanada - Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Rangkasbitung

Apa yang terlintas saat mendengar ‘Gua Maria Bukit Kanada’? Mungkin akan ada banyak orang yang berpikir bahwa tempat tersebut letaknya di luar negeri. Padahal lokasi Gua maria Bukit Kanada sendiri masih di Indonesia. Kanada yang dimaksud di sini adalah Kampung Narimbung Dalam. Yang mana merupakan wilayah administratif dimana Gua Maria di bangun di tahun 1988 berada. Baca Selengkapnya...

Ritual Pesugihan Putih Bambu Petuk, Hidup Tenang Tanpa Tumbal

Banyak dari kita umumnya telah mengetahui bahwa semua hal yang bersangkutan bersangkutan dengan pesugihan, selalu memiliki dampak negatif bagi si pengguna bahkan bagi orang yang ada disekitarnya. Sebab pesugihan identik dengan ritual ilmu hitam yang pada ujungnya, pasti akan meminta tumbal dan membuat hidup si pelaku pesugihan tidak akan merasa tenteram. Baca Selengkapnya...

Gua Maria Pelinggih Ida Kaniaka Maria, "Lourdes" Umat Katolik di Paroki Palasari Bali

Palinggih Ida Kaniaka Maria dalam bahasa Indonesia memiliki arti "tempat suci bagi Bunda Maria". Gua Maria ini dibangun pertama kali pada tahun 1962 di Banjar Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Oleh sebab itu dikenal dengan nama Gua Maria Palasari. Jaraknya dari Denpasar sekitar 115 km, butuh sekitar 3 jam berkendara menuju ke arah Bali Barat tanpa macet. Sedangkan jarak dari pelabuhan Gilimanuk sekitar 22 km, dari kota Negara 21 km menuju ke arah Barat. Baca Selengkapnya...

Semar, Advisor to The Ruling Kings in The Land of Java

The name of Sabda Palon was often mentioned in the Serat Darmagandhul and Jangka Jayabaya or known as the prophecy of Jayabaya. In Serat Darmagandhul, Sabda Palon was known as the spiritual advisor with high power from King Brawijaya V who was the last king of Majapahit Kingdom. As the story said, the king was so powerful and he could order and conquer all entities in the land of Java. In the literature book of Java by Ki Kalamwidi, Sabda Palon was the same figure as the puppet stories named… Baca Selengkapnya...
  • Sultan Maulana Hasanuddin, Founder of The Banten Kingdom

    Sultan Maulana Hasanuddin is known best as Sultan Hasanudin Banten. He had the important role in the spread of Muslim in Banten. He was the founder of Banten Kingdom as well as the first leader of Muslim region in Banten. Sultan Hasanudin was the second son of Nyi Kawunganten who was the daughter of Prabu Surasowan which at that time, he was the governor of Banten. Prabu Surasowan was also known as Syaikh Syarif Hidayatullah or known as Sunan Gunung Jati.

Ceritane Didik Nini Thowok Golek Duit Dadi Penari Kondang Lan Jajah Milangkori

Katon soko asmane manawa Didik Nini Thowok asline nduweni getih Tionghoa. Ramane ora liyo peranakan Tionghoa kang ‘kedampar’ ing Temanggung*, yaiku Kwee Yoe Tiang. Amarga Didi cilik kerep loro-loronen, ramane mulo ngganti asmane soko Kwee Tjoen Lian dadi Kwee Tjoen An. Dene biyunge asli Jawa, yaiku Suminah kang asli saka Desa Citayem, Cilacap. Waca sakabehe...