Fakta Tentang Disinfektan Untuk Sterilisasi Lingkungan

Sebagian orang merasa bahwa rumah, tempat ibadah, sekolah, maupun kantor Anda pasti bersih dan baik-baik saja, pada kenyataannya,  ada saja hal-hal yang dapat mempengaruhi kesehatan. Yang paling mudah dideteksi adalah bau tidak sedap, umumnya disebabkan  oleh kondisi udara yang lembap, perabotan lama dan usang, pakaian kotor, sampah rumah tangga atau asap rokok.

Jika dibiarkan aromanya bisa mengganggu kenyamanan, pernapasan bahkan dapat membahayakan kesehatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa bau tidak sedap sebagian besar terjadi karena jamur, bakteri, kuman hingga virus yang mungkin saja berbahaya.

Oleh sebab itu dibutuhkan upaya untuk kebersihan lingkungan, yaitu dengan melakukan sterilisasi ruangan. Ada beberapa metode yang biasa digunakan salah satunya adalah dengan disinfektan.

 

TENTANG DISINFEKTAN

Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme (misalnya bakteri, virus dan jamur) pada permukaan benda mati seperti furniture, lantai, ruangan dll. Tetapi tidak pada kulit atau selaput lendir, karena beresiko mengiritasi kulit dan berpotensi memicu kanker.

Penggunaan disinfektan yang paling mudah adalah dengan cara mengusapkan larutan tersebut pada bagian yang terkontaminasi. Cara lain adalah dengan teknik spray atau fogging, yaitu pengabutan cairan disinfektan dengan memompa dan menyemburkannya.

Fogging memang bisa menyebar lebih luas jika dibandingkan dengan teknik spray. Namun, dibalik manfaatnya fogging ternyata juga memiliki beberapa resiko yang harus dipikirkan, yaitu: permukaan lantai dan perabotan rumah biasanya akan menjadi licin dan timbul bercak akibat kandungan minyak yang terkandung di dalam cairan fogging.  

Kemudian jika residu dari disinfektan ini tidak dibersihkan dengan benar, dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan dan kulit pada mahluk hidup.

 

BAHAN PEMBUAT DISINFEKTAN

Ada beberapa bahan pembuat disinfektan yang direkomendasikan antara lain: alkohol 70%, klorin, dan hidrogen peroksida. Yang harus anda ketahui, bahan-bahan tersebut ternyata juga berbahaya. 

Seperti bahan disinfektan yang termasuk golongan klorin, merupakan cairan yang mudah menguap. Bila terhirup akan menyebabkan sesak hingga infeksi paru-paru. Kemudian juga Hidrogen peroksida, tergolong berbahaya juga karena dapat menyebabkan iritasi hingga rusaknya kulit.

Bahaya lain Disinfektan adalah spektrumnya yang luas, artinya tidak hanya membunuh virus yang disasar tetapi juga mikroorganisme lain yang seharusnya dibiarkan tetap hidup untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Termasuk mikroorganisme yang dapat menguraikan bahan kimia disinfektan tadi juga ikut mati.

Jika sisa disinfektan tersebut masuk kedalam tanah dan diserap tanaman, kemudian tanaman tersebut dimakan oleh sapi dan sapinya dikonsumsi oleh manusia, tentunya akan merugikan kesehatan.

Selain itu, bahan disinfektan juga mengubah sifat genetik dari mikroba yang terpapar tapi tidak mati. Mikroba tersebut dapat bermutasi menjadi kebal terhadap disinfektan dan mengganggu keseimbangan lingkungan. 

 

KESIMPULAN

Dari beberapa kajian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika menggunakan  disinfektan yaitu:

  • Penyemprotan disinfektan tidak boleh langsung kepada manusia dan mahluk hidup lainnya (tumbuhan dan hewan). Disamping tidak efektif, juga dapat mengganggu ekosistem mikoroorganisme pada lingkungan.
  • Membatasi jumlah dan daerah yang disemprot, misalnya hanya pada ruangan yang membutuhkan sterilitas seperti di rumah sakit dan ruangan di mana terdapat pasien yang menunjukkan gejala terinfeksi virus.
  • Cara terbaik menggunakan disinfektan bukan fogging, melainkan dengan langsung mengelap/mengusapkannya  pada permukaan benda-benda yang sering disentuh oleh orang banyak. Antara lain meja, kursi, gagang pintu, tombol lift, dll yang diperkirakan rentan tertempel virus berbahaya.

 

Informasi diatas adalah hasil penelitian para ahli dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (https://farmasi.ugm.ac.id/id/cara-penggunaan-disinfektan-yang-tepat-untuk-mencegah-penyebaran-covid-19/), dengan referensi dari: