Makna Lagu Pada Kesenian Jaranan

Jaranan adalah nama sebuah kesenian yang berasal dari Jawa Tengah dan sudah menjadi tradisi di Indonesia sejak zaman kerajaan kuno Jawa. Jaranan biasa disebut juga dengan nama kuda lumping. Pada jaman dahulu, jaranan adalah sebuah kesenian dalam upacara sakral, yang berhubungan dengan roh leluhur keraton. Seiring dengan perkembangannya, jaranan tidak hanya digunakan dalam kegiatan upacara sakral, tetapi juga sebagai sarana hiburan masyarakat.

Konon, jaranan erat kaitannya dengan unsur magis, melalui sebuah tarian yang membawa penarinya mengalami kesurupan dan melakukan aksi yang berbahaya. Tarian tersebut dimainkan oleh 4 orang penari atau lebih, yang menggunakan peralatan berupa kuda dari anyaman bambu serta pakaian seperti prajurit, dengan membawa pecut dan barongan.

Sebagai pengiring tari, dimainkan musik yang menggunakan kendang, gamelan, kenong, dan gong yang terbuat dari besi serta terompet. Trian yang dilakukan oleh pata pemain jaranan akan mengikuti pola atau ritme iramanya.

Ketika ritme tersebut telah mencapai pada puncaknya, penari akan mulai mengalami kesurupan, hingga dapat melakukan atraksi berbahaya, seperti memakan bunga, memakan pecahan kaca atau beling, bahkan berjalan di atasnya.

Lagu  pada kesenian Jaranan elemen penting untuk mendukung pertunjukkan. Lagu yang biasa dinyanyikan pada kesenian ini adalah lagu atau tembang jawa yang bernuansa religi.

Dikutip dari skripsi milik Pety Novita Ekasari yang berjudul Kesenian Jaranan di Kelurahan Banjaran Kediri, arti lagu jaranan biasanya mengandung nilai-nilai keagamaan, serta makna sebagaimana moral yang telah disampaikan oleh agama.

Tidak hanya tentang agama, lagu-lagu dalam kesenian jaranan juga memiliki makna yang beragam, sesuai dengan tujuan penciptaannya. Misalnya tentang amanah untuk menghormati dan saling menghargai sesama umat manusia, atau tentang sebuah filosofi hidup.

Sederhananya, meskipun atraksi yang ditampilkan oleh penari terkesan sangat berbahaya, jaranan memiliki lagu-lagu yang mempunyai makna dalam setiap nyanyiannya, sehingga diharapkan mampu memberikan nilai-nilai kehidupan bagi para penikmat keseniannya.

Di Telinga Orang Eropa, Suara Tokek Sangat Indah Dan Mempesona

Istilah Tokek dalam pemahaman orang awam merujuk kepada tokek rumah (Gekko gecko), dari jenis genus Gekko, famili Gekkonidae. Tidak hanya ada di Indonesia, Tokek menyebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara, ke Utara hingga Korea dan Jepang. Kemudian ke timur, meliputi Kepulauan Nusantara, Filipina, Solomon dan Santa Cruz di Pasifik. Akan tetapi, penyebarannya ternyata tidak sampai ke daratan eropa. Baca Selengkapnya...

Berapa Anggaran Yang Harus Disiapkan Untuk Merawat Kucing?

Kucing adalah salah satu jenis hewan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Jika dididik dengan benar, kucing sebenarnya sangat bermanfaat karena memiliki beberapa nilai positif yang berhubungan dengan kesehatan. Dilansir dari Wonders List, Kamis (17/5/2018), memelihara kucing ternyata dapat membantu mengusir kesepian pada seseorang yang sedang tidak atau belum bisa menjalin hubungan dengan orang lain karena satu dan lain hal. Baca Selengkapnya...

Gereja Katolik Santo Antonius Magelang Gelar Misa Tahun Baru Imlek, Dengan Khutbah Menggunakan Bahasa Mandarin

Tahun Baru Imlek adalah perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun". Baca Selengkapnya...

Sunan Kalijaga, A Saint Who was Once A Robber

The big name of Sunan Kalijaga was known as one of the Walisongo members that spread Islam throughout the land of Java. However, not many people know that actually Sunan Kalijaga was once a robber. Before being a saint that spread Islam and teach kindness to other people, Sunan Kalijaga was popular in Easy Java as the robber and his nickname back then was Brandal Lokajaya. His real name was Raden Said and he was the son of Putera Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta. Baca Selengkapnya...

The Story of Sunan Kudus Forbid People to Eat Beef

Sunan Kudus was known to teach tolerance towards others while spreading Islam in the land of Java. One form of tolerance taught by Sunan Kudus is he banned people to eat beef so they can respect other humans who have other religions. After Hindu society came to the Mosque’s park, Sunan Kudus said the great greetings and also welcome and gave speech as well as discussion. At that time, Sunan Kudus announced to the Kudus society to not kill cow and eat beef. Baca Selengkapnya...