Mengapa Ungu Menjadi Warna Liturgi Selama Masa Prapaskah dalam Tradisi Katolik?

Ungu adalah jenis warna antara lembayung dan magenta. Ungu berasal dari bahasa Inggris purple dan dan bahasa Latin purpura. Dalam tradisi Katolik, ungu adalah salah satu elemen warna dalam liturgi yang menjadi simbol atau tanda peristiwa gerejawi.

Warna ungu merupakan simbol kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati dan mawas diri.  Itu sebabnya warna ungu dipilih untuk masa adven dan prapaskah. Sebab pada masa itu semua orang kristen dundang untuk bertobat, mawas diri dan mempersiapkan diri bagi perayaan agung Natal ataupun Paskah. Warna ungu juga digunakan untuk keperluan ibadat tobat.

Pada jaman dahulu, liturgi arwah menggunakan warna hitam, kemudian diganti dengan warna ungu, untuk melambangkan penyerahan diri, pertobatan, permohonan belas kasihan dan kerahiman Tuhan atas diri orang yang meningggal dunia dan kita semua sebagai umat beriman. (Sumber: Buku Liturgi Pengantar Untuk Studi dan Praktis Liturgi, RD Emmanuel Martasudjita).

Dikutip dari laman The Katolik dan luxveritatis7, warna ungu yang dikenakan satu minggu jelang Paskah, berhubungan erat dengan sengsara dan wafat Yesus. Dikisahkan para prajurit memakaikan Yesus jubah ungu dan mahkota dari anyaman duri. Warna ungu disebut juga violet, mengingatkan kita akan bunga violet yang kuntumnya tertunduk ke tanah sebagai simbol kerendahan hati.

Masa Prapaskah adalah masa untuk memperbanyak puasa, doa, dan amal kasih; kita dengan rendah hati menyesali dosa-dosa kita sementara menantikan hidup baru di dalam Kristus yang wafat dan bangkit. Sementara itu, Masa Adven adalah masa penantian akan kelahiran Mesias yang dijanjikan para nabi.

Warna ungu pada Masa Adven sesuai dengan warna semburat fajar sebelum terbitnya matahari; dengan penuh harapan kita menunggu datangnya Sang Timur yang akan menghalau kegelapan dosa.

Terakhir, warna ungu pun sesungguhnya warna kerajaan; pada zaman Yesus, ungu merupakan warna yang mahal karena memerlukan zat warna khusus. Jubah warna ungu seringkali dikenakan oleh raja, atau untuk menyambut raja.

Ungu sebagai warna Liturgi di dalam Perayaan Misa diterapkan pada: busana pastor, misdinar, diakon, prodiakon, petugas misa lain, paduan suara yang mengiringi, pada  stola ataupun taplak altar yang menjadi tempat untuk meletakkan bejana-bejana perjamuan.

Warna ungu pada perayaan Liturgi di Gereja Katolik, sudah ditetapkan dalam Ordo Missae oleh Paus Pius VI pada tahun 1969. Untuk dapat mengetahui warna liturgi setiap hari atau minggunya dapat melihat pada panduan dalam kalender liturgi gereja. Oleh sebab itu, warna ungu yang ditetapkan gereja dalam kalender litugi, tidak untuk diperdebatkan atau diubah sendiri. 

Apakah umat wajib menyesuaikan busana selama ibadah dengan warna liturgi gereja? Ternyata jawabannya tidak. Dalam Pedoman Umum Misale Romanum 335 disebutkan:

"Gereja adalah tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis. Seyogyanya busana liturgis untuk imam, diakon, dan para pelayan awam diberkati."

Sumber:

  • cnnindonesia.com
  • thekatolik.com

Artikel terkait

khasiat besi towo

Apakah Khasiat Besi Towo Bermanfaat Bagi Kehidupan?

Bukan hal yang tabu lagi di Indonesia, jika banyak masyarakatnya sangat percaya dengan hal-hal yang berbau klenik, mistis dan juga tradisional seperti batu bertuah maupun juga benda yang dianggap memiliki kesaktian tersendiri untuk berbagai macam manfaat dalam kehidupan. Salah satunya adalah besi towo, wesi tawa atau ada juga yang menyebutnya sama dengan besi kursani. Sebuah benda langka yang (katanya) sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia yang memilikinya. Baca Selengkapnya...

Semar, Advisor to The Ruling Kings in The Land of Java

The name of Sabda Palon was often mentioned in the Serat Darmagandhul and Jangka Jayabaya or known as the prophecy of Jayabaya. In Serat Darmagandhul, Sabda Palon was known as the spiritual advisor with high power from King Brawijaya V who was the last king of Majapahit Kingdom. As the story said, the king was so powerful and he could order and conquer all entities in the land of Java. In the literature book of Java by Ki Kalamwidi, Sabda Palon was the same figure as the puppet stories named… Baca Selengkapnya...

Ajian Saifi Angin (Sepiangin), Sarana Teleportasi Jaman Dulu

Bicara soal ilmu kebatinan, ternyata ada banyak sekali jumlahnya di Indonesia, khusunya di tanah Jawa. Salah satu dari ilmu kebatinan yang melegenda yaitu bernama Saifi Angin. Ilmu ini diyakini dapat meringankan tubuh penggunanya sehingga bisa berlari atau berpindah tempat dengan sangat cepat bak angin. Baca Selengkapnya...

Ajian Brajamusti, Ilmu Tingkat Tinggi Yang Bikin Ngeri

Ajian brajamusti merupakan salah satu ilmu kuno yang digunakan untuk membela diri, biasa disebut juga sebagai ilmu kanuragan. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan dari serangan dan melakukan serangan, dengan gerakan yang sistematis dan terarah, menggunakan kekuatan yang melebihi manusia normal karena telah melalui pola latihan khusus. Sebagai ilmu kanuragan, ajian brajamusti berhubungan erat dengan kepercayaan Jawa yaitu ‘sadulur papat lima pancer’, sebuah filosofi atau simbol kearifan lokal… Baca Selengkapnya...
  • Sultan Maulana Hasanuddin, Founder of The Banten Kingdom

    Sultan Maulana Hasanuddin is known best as Sultan Hasanudin Banten. He had the important role in the spread of Muslim in Banten. He was the founder of Banten Kingdom as well as the first leader of Muslim region in Banten. Sultan Hasanudin was the second son of Nyi Kawunganten who was the daughter of Prabu Surasowan which at that time, he was the governor of Banten. Prabu Surasowan was also known as Syaikh Syarif Hidayatullah or known as Sunan Gunung Jati.

Ceritane Didik Nini Thowok Golek Duit Dadi Penari Kondang Lan Jajah Milangkori

Katon soko asmane manawa Didik Nini Thowok asline nduweni getih Tionghoa. Ramane ora liyo peranakan Tionghoa kang ‘kedampar’ ing Temanggung*, yaiku Kwee Yoe Tiang. Amarga Didi cilik kerep loro-loronen, ramane mulo ngganti asmane soko Kwee Tjoen Lian dadi Kwee Tjoen An. Dene biyunge asli Jawa, yaiku Suminah kang asli saka Desa Citayem, Cilacap. Waca sakabehe...