Puas! Di Kebun Raya Eka Karya Bisa Lihat Ratusan Jenis Begonia

Ingin melihat banyak koleksi tanaman hias begonia? Jika iya, datanglah ke Kebun Raya Eka Karya yang ada di Bedugul, Bali. Ya, Bali tidak saja mempesona dengan keindahan budaya dan pesisir pantainya yang aduhai, tetapi rupanya juga memiliki kebun raya yang mengoleksi sedikitnya 313 jenis begonia. Wow....! Cukup banyak bukan?

Ratusan jenis begonia itu ditanam secara khusus di sebuah Taman Begonia seluas 700 meter persegi. Kabarnya, koleksi begonia yang ada di Kebun Raya Eka Karya Bedugul tersebut merupakan yang terlengkap di dunia. Untuk diketahui jumlah spesies Begonia mencapai lebih dari 1.700 di dunia dan tersebar di kawasan tropis maupun sub tropis.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada lebih dari 200 jenis begonia. Mengutip laman LIPI, di Jawa terdapat 15 jenis begonia, di Sumatra 35 spesies, Kalimantan 40 spesies, Sulawesi 20 spesies dan di Papua sebanyak 70 spesies.

Pengoleksian Begonia dai Kebun Raya Eka Karya Bedugul diawali pada 2001 silam. Selang 7 tahun kemudian, sebuah tulisan Hoover (2008) pada World Center of Begonia menyebut Kebun Raya Bali memiliki koleksi begonia terlengkap di dunia. Padahal, awalnya kebun raya yang berada pada ketinggian 1.250 mdpl itu hanya memulai pengoleksian dengan 5 jenis begonia saja.

Penambahan koleksi terbanyak dilakukan pada 2006 hingga 2009 yang berasal dari eksplorasi di Pulau Sulawesi dan Papua. Khusus eksplorasi di Papua, dilakukan di Cagar Alam Pulau Batanta Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.

Selain dengan eksplorasi flora ke sejumlah pulau, upaya memperkaya koleksi juga dilakukan dengan pertukaran biji ke kebun raya lain. Ada pun kebun raya yang sempat diajak berkerjasama untuk memperkaya koleksi tersebut, antara lain Jardin Botanic Garden (BG), Perancis; Glassgow BG, Skotlandia; Queen Sirikit BG, Thailand; Tubingen BG, Jerman; American Begonia Society Tonkawa, Amerika Serikat; dan New England Tropical Conservatory, Inggris.

Sementara itu, dari 313 jenis begonia yang ada di Kebun Raya Eka Karya Bali tersebut, 100 diantaranya merupakan begonia alam, sedangkan 213 sisanya merupakan begonia hasil persilangan.

Benarkah Suara Tokek 8 Kali Adalah Pertanda Buruk?

Mitos, adalah bagian dari suatu folklor (budaya turun temurun) umumnya berupa kisah berlatarbelakang masa lampau. Mitos juga mengandung penafsiran tentang alam semesta, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Salah satu mitos yang masih dipercaya masyarakat Indonesia adalah suara tokek 8 kali. Baca Selengkapnya...

Semar, Advisor to The Ruling Kings in The Land of Java

The name of Sabda Palon was often mentioned in the Serat Darmagandhul and Jangka Jayabaya or known as the prophecy of Jayabaya. In Serat Darmagandhul, Sabda Palon was known as the spiritual advisor with high power from King Brawijaya V who was the last king of Majapahit Kingdom. As the story said, the king was so powerful and he could order and conquer all entities in the land of Java. In the literature book of Java by Ki Kalamwidi, Sabda Palon was the same figure as the puppet stories named… Baca Selengkapnya...

Ajian Saifi Angin (Sepiangin), Sarana Teleportasi Jaman Dulu

Bicara soal ilmu kebatinan, ternyata ada banyak sekali jumlahnya di Indonesia, khusunya di tanah Jawa. Salah satu dari ilmu kebatinan yang melegenda yaitu bernama Saifi Angin. Ilmu ini diyakini dapat meringankan tubuh penggunanya sehingga bisa berlari atau berpindah tempat dengan sangat cepat bak angin. Baca Selengkapnya...

Gua Maria Pelinggih Ida Kaniaka Maria, "Lourdes" Umat Katolik di Paroki Palasari Bali

Palinggih Ida Kaniaka Maria dalam bahasa Indonesia memiliki arti "tempat suci bagi Bunda Maria". Gua Maria ini dibangun pertama kali pada tahun 1962 di Banjar Palasari, Desa Ekasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Oleh sebab itu dikenal dengan nama Gua Maria Palasari. Jaraknya dari Denpasar sekitar 115 km, butuh sekitar 3 jam berkendara menuju ke arah Bali Barat tanpa macet. Sedangkan jarak dari pelabuhan Gilimanuk sekitar 22 km, dari kota Negara 21 km menuju ke arah Barat. Baca Selengkapnya...
  • Sultan Maulana Hasanuddin, Founder of The Banten Kingdom

    Sultan Maulana Hasanuddin is known best as Sultan Hasanudin Banten. He had the important role in the spread of Muslim in Banten. He was the founder of Banten Kingdom as well as the first leader of Muslim region in Banten. Sultan Hasanudin was the second son of Nyi Kawunganten who was the daughter of Prabu Surasowan which at that time, he was the governor of Banten. Prabu Surasowan was also known as Syaikh Syarif Hidayatullah or known as Sunan Gunung Jati.

Ceritane Didik Nini Thowok Golek Duit Dadi Penari Kondang Lan Jajah Milangkori

Katon soko asmane manawa Didik Nini Thowok asline nduweni getih Tionghoa. Ramane ora liyo peranakan Tionghoa kang ‘kedampar’ ing Temanggung*, yaiku Kwee Yoe Tiang. Amarga Didi cilik kerep loro-loronen, ramane mulo ngganti asmane soko Kwee Tjoen Lian dadi Kwee Tjoen An. Dene biyunge asli Jawa, yaiku Suminah kang asli saka Desa Citayem, Cilacap. Waca sakabehe...