Uniknya Begonia Cane ‘Sayap Malaikat’

Begonia adalah tanaman hias yang belakangan semakin banyak digandrungi masyarakat. Selain cukup mudah perawatannya, tanaman hias ini juga memiliki banyak jenis. Setidaknya ada lebih dari 1.700 spesies dari Begonia. Salah satu yang menarik dari spesies itu adalah Begonia Cane. Berikut adalah keunikan Begonia Cane atau kerap disebut sebagai Begonia Sayap Malaikat.

Begonia Cane merupakan hasil persilangan antara Begonia aconitifolia dan Begonia coccinea. Hibiridisasi mula-mula dilakukan oleh pembibit tanaman asal California, Eva Kenworthy Grey pada tahun 1926. Julukan ‘Sayap Malaikat’ yang melekat pada Begonia Cane tidak terlepas dari bentuk daunnya yang unik menyerupai sayap. Selain tampilan daunnya yang unik, Begonia Cane juga memiliki kekhasan pada batangnya yang menyerupai pohon bambu.

Begonia jenis ini semakin tampak elok saat berbunga. Bunga menjuntai berwarna merah muda dengan tengah kelopak berwarna kuning. Tak hanya menyejukan pandangan, saat bermekaran Begonia Cane juga cukup memanjakan indera penciuman berkat keharuman bunganya.

Tanaman yang mulai populer di Amerika Selatan ini, kini sudah banyak dijumpai di berbagai tempat, termasuk Indonesia. Untuk membudidayakan Begonia Cane, satu hal yang harus diperhatikan adalah jangan biarkan terkena matahari langsung. Hal ini karena pancaran sinar matahari yang terlalu banyak bisa membuatnya kering.

Oleh karena itu, letakkan saja Begonia Cane di tempat teduh seperti teras rumah atau bawah pohon rindang,di mana air hujan atau sinar matahari tak langsung mengenainya.

Kabar baik bagi Anda yang tak memiliki teras atau halaman luas dengan pohon rindang, Begonia Cane juga bisa dibudidayakan di dalam rumah. Satu hal yang penting, pastikan Begonia Cane tetap mendapatkan pancaran sinar matahari untuk membantunya tumbuh dan berkembang. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kebutuhan air.

Siram Begonia Cane dalam pot sehari 1-2 kali saja. Pastikan tanahnya lembab, karena Begonia memiliki karakter akan tumbuh dengan baik pada kondisi yang lembab. Bagaimana, tertarik untuk mengembangkan Begonia Cane?

Ajian Saifi Angin (Sepiangin), Sarana Teleportasi Jaman Dulu

Bicara soal ilmu kebatinan, ternyata ada banyak sekali jumlahnya di Indonesia, khusunya di tanah Jawa. Salah satu dari ilmu kebatinan yang melegenda yaitu bernama Saifi Angin. Ilmu ini diyakini dapat meringankan tubuh penggunanya sehingga bisa berlari atau berpindah tempat dengan sangat cepat bak angin. Baca Selengkapnya...

Benarkah Suara Tokek 8 Kali Adalah Pertanda Buruk?

Mitos, adalah bagian dari suatu folklor (budaya turun temurun) umumnya berupa kisah berlatarbelakang masa lampau. Mitos juga mengandung penafsiran tentang alam semesta, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Salah satu mitos yang masih dipercaya masyarakat Indonesia adalah suara tokek 8 kali. Baca Selengkapnya...

Ritual Pesugihan Putih Bambu Petuk, Hidup Tenang Tanpa Tumbal

Banyak dari kita umumnya telah mengetahui bahwa semua hal yang bersangkutan bersangkutan dengan pesugihan, selalu memiliki dampak negatif bagi si pengguna bahkan bagi orang yang ada disekitarnya. Sebab pesugihan identik dengan ritual ilmu hitam yang pada ujungnya, pasti akan meminta tumbal dan membuat hidup si pelaku pesugihan tidak akan merasa tenteram. Baca Selengkapnya...

Gua Maria Sumber Kahuripan - Paroki Santo Fransiskus Asisi Cibadak, Sukabumi

Salah satu tempat ziarah dan berdoa bagi umat Katolik di Sukabumi adalah Gua Maria Sumber Kahuripan. Yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan No.29, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat 43155, sekitar ±19.33 Km dari Kantor Bupati Sukabumi. Gua Maria Sumber Kahuripan ini diresmikan oleh Uskup Bogor, Mgr Michael Cosmos Angkur, OMF pada tanggal 30 Mei 2004. Baca Selengkapnya...
  • Sultan Maulana Hasanuddin, Founder of The Banten Kingdom

    Sultan Maulana Hasanuddin is known best as Sultan Hasanudin Banten. He had the important role in the spread of Muslim in Banten. He was the founder of Banten Kingdom as well as the first leader of Muslim region in Banten. Sultan Hasanudin was the second son of Nyi Kawunganten who was the daughter of Prabu Surasowan which at that time, he was the governor of Banten. Prabu Surasowan was also known as Syaikh Syarif Hidayatullah or known as Sunan Gunung Jati.

Ceritane Didik Nini Thowok Golek Duit Dadi Penari Kondang Lan Jajah Milangkori

Katon soko asmane manawa Didik Nini Thowok asline nduweni getih Tionghoa. Ramane ora liyo peranakan Tionghoa kang ‘kedampar’ ing Temanggung*, yaiku Kwee Yoe Tiang. Amarga Didi cilik kerep loro-loronen, ramane mulo ngganti asmane soko Kwee Tjoen Lian dadi Kwee Tjoen An. Dene biyunge asli Jawa, yaiku Suminah kang asli saka Desa Citayem, Cilacap. Waca sakabehe...