Makam Sunan Bonang - Katorejo, Tuban, Jawa Timur

"Salah satu dari sembilan wali penyebar Islam di Indonesia adalah Sunan Bonang yang bernama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim."

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, ziarah ke makam wali songo merupakan salah satu kegiatan spiritual yang cukup rutin dilakukan. Tujuan ziarah ke makam para wali penyebar agama Islam di tanah Nusantara itu pun beragam, mulai dari yang sekadar memuaskan kebutuhan batin agar merasa tenang, sekaligus mempelajari sejarah, bahkan ada pula yang berharap agar doa dan harapannya terkabul (meski dari sudut pandang agama, alasan yang satu ini dapat dikategorikan sebagai perilaku syirik).

Kegiatan ziarah wali songo ini biasanya dilakukan secara rombongan. Tidak hanya ke wali songo, nyekar juga dilakukan ke beberapa tokoh habib dan ulama besar lainnya. Sesungguhnya, ketika seseorang berziarah, yang dilakukannya bukan hanya sekadar mengunjungi makam, melainkan juga mendoakan orang yang dikunjungi, termasuk para wali dalam hal ini. Mendoakan kemuliaan mereka yang telah memperjuangkan Islam di tanah air, bukan justru meminta dirinya sendiri didoakan oleh para wali yang sudah meninggal. Tata cara ziarahnya pun tidak berbeda dengan tata cara ziarah kubur pada umumnya.


Biografi Singkat Sunan Bonang

Ayahnya juga seorang wali songo, yakni Sunan Ampel yang termahsyur dan menjadi guru dari beberapa orang yang nantinya juga menjadi bagian dari wali songo dan tokoh besar lainnya seperti Raden Patah. Sebagai seorang putra dari pemuka agama besar, Sunan Bonang mempelajari agama Islam dengan tekun dari ayahnya. Kemudian bersama dengan Raden Paku, putra dari Sunan Giri di Negeri Pasai, Sunan Ampel lantas memerintahkan putranya untuk menyebar dakwah di daerah Tuban, Pati, Pulau Madura, dan Pulau Bawean. Sunan Bonang juga mendirikan pesantren di Tuban.

Metode berdakwahnya pun sama sekali tidak menggunakan kekerasan. Untuk menarik atensi masyarakat yang kala itu masih kental dengan pengaruh Hindu-Budha, Sunan Bonang menggunakan kesenian rakyat dalam menarik simpati masyarakat. Masyarakat yang kala itu masih di bawah pengaruh dan kekuasaan Hindu Majapahit sangat akrab dengan musik gamelan. Sunan Bonang memanfaatkan kesempatan itu dengan menabuh gamelan yang terdengar begitu merdu ketika dipukul.

Masyarakat pun berbondong-bondong datang ke masjid mengikuti asal bunyi merdu tersebut. Lagu berjudul ‘Tombo Ati’ yang hingga kini terkenal itu pun konon merupakan salah satu karya Sunan Bonang. Kendati mungkin Sunan Bonang tidak semenonjol para wali lainnya, cucu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) tersebut meninggalkan karya tulis berisi pemikiran keagamaan dan budaya bercorak sufistik yang paling banyak.


Wafatnya Sunan Bonang dan Tradisi Ziarah Wali

Menurut sejarah, Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 di Pulau Bawean. Jika Anda menelusuri jejak Sunan Bonang, bisa jadi Anda akan menemukan kebingungan mengenai letak makam wali yang satu ini–antara Tuban dan Bawean. Masing-masing murid Sunan Bonang yang berada di berbagai daerah mengklaim masing-masing. Konon setelah meninggal di Bawean dan akan dimakamkan di sana, murid Sunan Bonang yang dari Tuban tidak terima.

Sebuah versi mengatakan bahwa sejumlah murid dari Tuban mengendap-endap untuk mencuri jenazah Sunan pada malam kematian sang Sunan. Akan tetapi pada saat pemakaman, jenazah Sunan Bonang tetap ada di Bawean, sementara yang dibawa ke Tuban pun juga masih ada. Versi lain mengatakan bahwa murid-murid dari Tuban berniat untuk memindahkan jenazah Sunan Bonang dan memakamkannya di Tuban. Sayang ketika di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh murid-murid lainnya dari Madura dan terjadi perebutan. Anehnya ketika peti jenazah tersebut dibuka, jenazah Sunan Bonang tidak ada–hanya kain kafan.

Baik di Tuban maupun Bawean sendiri, makam Sunan Bonang selalu ramai dikunjungi. Jika Anda ingin berziarah ke makam Sunan Bonang, Anda boleh memilih untuk mengunjungi salah satu atau bahkan keduanya, sesuai dengan keyakinan Anda—asal niatkan berziarah bukan untuk melakukan perbuatan yang dilarang agama.

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

B.J. Habibie

Bagaimana susunan keluarga Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie? Ini dia...

Bung Hatta (Moh.Hatta)

Membicarakan Bung Karno atau Presiden RI pertama Soekarno tidak lengkap tanpa wakilnya, Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta. Seperti apakah silsilah keluarga dan kisah hidup Mohammad Hatta? Ini dia:

Only One in the World

Religious Tourism in Bali? Why Don’t Try Ulun Mumbul Temple?

Ulun Mumbul Temple Springs for Life. Traveling to the island of Bali is a very pleasant tourist experience. Almost every corner there is a statue or as a form of worship and appreciation for Sang Hyang Widi. Read More...

Tradisi Keluarga

Megengan, Tradisi Khas Pati Sambut Bulan Suci

Indonesia memiliki keragaman tradisi yang begitu luar biasa. Masing-masing suku dan wilayah bahkan memiliki tradisi yang berbeda-beda dan unik. Tradisi itu bisa bersumber dari kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya atau bahkan bisa berasal dari warisan…

Makam Ratu Syarifah Ambami - Buduran, Bangkalan, Jawa Timur

"Kisah Kesetiaan dan Kecintaan Seorang Istri dari Tanah Madura."

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Mas Singgih, Mas Soetojo, Mas Rara Patimah, Mas Soemantri, Mas Rara Soertinah, Mas Rara Soemartinah, Mas Rara Soepatmi, Mas Agoes Soedjono, Soebandijah
  • Raden Rara Siti Aminah, Raden Rara Salamah
  • "Raden Ngabehi Tjokrohadiwikromo Kang Noelis Pakem Sadjarahe Mas Behi Kartodikromo"
  • Raden Ajoe Koesoemowisastro (Roosmi), Raden Wirijokoesoemo (Djajoes), Raden Nganten Soerokoesoemo (Roekijah), Raden Samsoe (Kartoamiredjo), Raden Nganten Koesoemodiwirio (Rademi), Raden Noto, Raden Nganten Mertokoesoemo (Resmi), Raden Goenadi, Radcn Nganten…