Makam Sunan Drajat - Paciran, Lamongan, Jawa Timur

"Lahir pada tahun 1471 dengan nama Raden Qosim, Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel dan bersaudara dengan Sunan Bonang."

Sunan bergelar Raden Syarifuddin ini menghabiskan masa kecilnya di kawasan Ampel Denta, Surabaya. Ketika beliau sudah dewasa dan dirasa cukup dengan bekal ilmu agama yang dimiliki untuk mulai turut menyiarkan agama dan ajaran Islam, Sunan Ampel memerintahkannya untuk pergi ke wilayah timur.

Kala itu sebenarnya Sunan Drajat sudah memiliki keinginan untuk mengikuti jejak kakaknya, Sunan Bonang, untuk berdakwah. Sunan Drajat berniat untuk membantu Sunan Bonang melakukan dakwah dan penyebaran Islam di daerah Tuban. Sunan Drajat masih memiliki keraguan jika harus berdakwah sendiri, apalagi ke daerah timur yang masih terlalu kental pengaruh Hindu-nya. Singkat cerita, keduanya lantas sepakat bahwa Sunan Drajat akan melakukan dakwah di pesisir antara Gresik dan Tuban.

Pada hari yang telah ditentukan, Sunan Drajat berangkat bersama dengan beberapa murid Sunan Ampel lainnya untuk memulai perjalanan. Dengan menggunakan perahu, mereka berlayar mengarungi pesisir utara antara Gresik dan Tuban. Mereka sempat singgah sejenak dan bersilaturahmi dengan Sunan Giri yang menyambut baik dan mendukung penuh tujuan Sunan Drajat.

Sunan Giri memberi beberapa nasehat kepada putra Sunan Ampel tersebut untuk tidak terlalu keras saat menyiarkan Islam, mengingat penduduk di tempat tujuan Sunan Drajat yang sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan tersebut masih berada di bawah pengaruh Hindu dan Budha yang cukup kental.

Ketika meneruskan perjalanan, di tengah-tengah perjalanan badai besar menyeret perahu yang dinaiki oleh Sunan Drajat dan beberapa murid Sunan Ampel lainnya di wilayah Lamongan, sebelah barat Gresik. Dengan berpegangan pada dayung perahu, Sunan Drajat selamat. Beliau lantas tertolong oleh ikan cucut dan ikan talang dengan berpegangan pada kedua ikan tersebut dan berhasil mendarat di Kampung Jelak.

Sunan disambut dengan baik oleh tetua Kampung Jelak, Mbah Mayang Madu. Setelah menetap di wilayah tersebut selama beberapa tahun, Sunan Drajat kemudian menikah dengan putri dari Mbah Mayang Madu dan mendirikan sebuah surau yang menjadi tempat mengaji banyak orang. Sekitar tiga tahun kemudian Sunan Drajat kemudian pindah menuju tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir kala musim penghujan dan kelak dinamakan sebagai Desa Drajat.

 

Tradisi Nyekar di Makam Sunan Drajat

Sunan Drajat meninggal pada sekitar tahun 1522. Makam Sunan Drajat berada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Tidak ada makam para wali yang tidak ramai pengunjung, termasuk makam Sunan Drajat yang bangunannya menyerupai candi. Komplek makam Sunan Drajat luas dan bersih. Pengunjung yang datang memiliki tujuan yang berbeda, seperti nyekar dan sebagai bagian dari ziarah wali songo, sekadar ingin tahu dan menjadikannya sebagai objek wisata biasa, atau bahkan mengambil nilai historisnya.

Di komplek pemakaman Sunan Drajat juga terdapat museum yang diresmikan Gubernur Jawa Timur pada tahun 1992 untuk menghormati jasa-jasa Sunan Drajat dan menyimpan benda-benda bersejarah peninggalannya. Bagaimanapun, sebagian besar masyarakat menganggap makam Sunan Drajat sebagai tempat wisata religi, seperti makam wali songo lainnya.

Pengunjung yang datang pun biasanya melakukan tata cara ziarah kubur sebagaimana mestinya: dalam keadaan bersih dan suci, mengucapkan salam, membaca doa dan bacaan tauhid lainnya. Adapun manfaat dari ziarah wali antara lain adalah untuk senantiasa mengingat kematian dan meneladani sikap dan perjuangan para wali yang gigih menyebarkan Islam di tengah-tengah masayarakat yang masih kental dengan nuansa Hindu dan Budha.

 

Nah, kira-kira, jika Anda akan berkunjung ke makam Sunan Drajat, apa tujuan Anda?

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Prabowo Subianto

Terlepas dari suka atau tidaknya Anda untuk mengikuti perkembangan dunia politik tanah air, nama Prabowo Subianto pasti sudah tidak asing lagi di telinga Anda.

Keluarga Sosrodjojo dan Profil Teh Botol Sosro

Anda tentu tidak asing dengan Teh Botol Sosro, bukan? Minuman teh botol kemasan dari Indonesia ini emang terkenal di saentero negeri. Dengan tagline “Apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro,”…

Only One in the World

Puja Mandala: A Religious Spot Center in Nusa Dua

The Beauty of Differences shown in Puja Mandala - Puja Mandala is an exceptional spot in Bali. It is a religious spot center which provides five houses of prayers within an area. From the east, you can find a Protestant church, a Vihara, A church for Catholics and the mosque for Muslims to do the prayers. Read More...

Tradisi Keluarga

Ngabuburit di Masjid Lautze Bareng Mualaf Tionghoa Saat Ramadhan

Berkunjung ke wilayah Pecinan di Pasar Baru Jakarta, siapa sangka terdapat sebuah masjid di antara bangunan ruko-ruko lainnya. Masjid ini tepatnya beralamat di Jalan Lautze No.87-89, RT 10/RW 03 Karang Anyar, Sawah Besar, Jakpus.

Terpikat Onthel, Apa Gerangan Penyebabnya? Coba Lihat Gambar Sepeda Dibawah Ini!

Onthel adalah sebutan untuk sepeda tua yang termasuk ke dalam barang antik. Hampir sebagian besar diproduksi di negara-negara Eropa, yaitu Jerman. dan Belanda. Onthel saat ini menjadi barang koleksi yang memiliki cukup banyak variasi, mulai dari penggunaan…

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Mas Rara Asijah, Mas Rara Aminah, Mas Soengkowo, Mas Rara Soekowati, Mas Soebagio
  • Sastrosoepoetro, Soepetanti, Hartati, Hartini, Goembreg, Soemitrati, Soerjadi, Goenoengsoerjanto, Wijadi
  • Mas Rara Marjam, Mas Abdoel Kadir, Mas Abdoerrachman, Mas Abdoeloemar
  • Mas Abdoellah, Mas Rara kalimah, Mas Rara Soejatmi