Makam Syech Siti Jenar - Harjamukti, Cirebon, Jawa Barat

"Asal-usul Syech Siti Jenar serta sebab kematiannya masih simpang siur dan ada beberapa versi, begitu pula dengan lokasi makam tempat dia disemayamkan."

Awal Mula Tradisi Ziarah Kubur

Tradisi ziarah kubur adalah tradisi yang umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam. Tradisi ini dilakukan sebagai pengingat diri akan kematian. Dalam budaya masyarakat Jawa, ziarah kubur ini dikenal dengan istilah nyekar. Dilihat dari makna katanya, nyekar berasal dari kata sekar (bahasa Jawa) yang artinya bunga. Saat mengunjungi makam keluarga, masyarakat Jawa terbiasa membawa beberapa jenis bunga dan menaburkannya di atas pusara. Setelah menabur bunga, peziarah makam akan membaca doa bersama-sama.

Tradisi nyekar ini biasanya dilakukan pada saat-saat tertentu, biasanya menjelang bulan Ramadhan. Tradisi yang masih dipengaruhi oleh budaya agama Hindu ini bertahan dari tahun ke tahun dan dimulai dari masa sebelum penjajahan. Tradisi ini kemudian berakulturasi dengan ajaran Islam yakni ziarah kubur. Pada perkembangannya, nyekar atau menebar bunga ini menjadi bagian dari tata cara ziarah kubur yang umum di Indonesia.

 

Tradisi Nyekar ke Makam Syech Siti Jenar

Tradisi nyekar yang bermuatan religi biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan mengunjungi makam para raja atau pemuka agama. Saat Islam datang ke Indonesia, yang konon dibawa dan diajarkan oleh para wali (wali songo), tradisi nyekar ini tetap dilakukan oleh masyarakat.  Masyarakat Jawa yang beragama Islam pada saat-saat tertentu juga melakukan ziarah ke makam wali songo. Tradisi ini bertahan hingga sekarang, bahkan menjadi ziarah wali songo ini menjadi semacam ritual yang diyakini sebagian kalangan masyarakat sebagai salah satu bentuk ibadah.

Makam para wali ini tersebar di berbagai daerah di pulau Jawa sesuai dengan daerah tempat wali-wali tersebut berdakwah. Dari catatan sejarah tentang para wali ini, dikenal satu nama yang cukup kontroversial yakni Syech Siti Jenar. Pada cerita sejarah yang umum dikenal, Syech Siti Jenar sebenarnya adalah salah satu ulama juga dan pernah berguru kepada Sunan Giri. Syech Siti Jenar yang bernama asli Raden Abdul Jalil dianggap sebagai tokoh aliran Sufi dan menyebarkan ajarannya di Jepara sehingga dikenal juga dengan nama Sunan Jepara.

Di buku-buku sejarah secara umum mencatat bahwa ajaran Syech Siti Jenar dinilai sesat oleh wali songo karena ajarannya yakni Manunggaling Kawula Gusti yang dinilai bertentangan dengan ajaran tauhid dalam Islam. Namun, selepas kepergian Syech Siti Jenar, masih banyak pengikutnya yang hidup dan meyakini serta menyebarkan ajarannya. Maka tidak heran bila saat ini masih banyak yang melakukan ritual ziarah ke makam Syech Siti Jenar.

Uniknya, makam Syech Siti Jenar ini tidak hanya berada di satu daerah. Masing-masing juru kunci mengklaim bahwa makam yang dijaganya adalah makam Syech Siti Jenar yang asli. Makam Syech Siti Jenar berada di kota Kartasura, Cirebon, Tuban, dan beberapa daerah lain. Makam Syech Siti Jenar di Tuban diapit oleh makam istri dan anaknya serta makam Mpu Supa, seorang tokoh pembuat keris pusaka. Terdapat pula makam kuno yang diyakini sebagai makam Cebol Kepalang, seorang pengikut Syech Siti Jenar.

Di Jepara, dahulu Syech Siti Jenar juga dikenal sebagai penasehat menantu Raden Patah yakni Sultan Hadlirin. Makam Syech Siti Jenar di Jepara pun berada di sebelah makan Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat. Sedangkan di Cirebon, makam Syech Siti Jenar diyakini berada di desa Kemlaten, kecamatan Harjamukti. Dalam buku Babad Cerbon nama desa Kemlaten berasal dari kata ‘melati’ yang mengandung makna bau wangi bunga melati yang keluar dari jasad Syech Siti Jenar ketika makamnya dibongkar. Makam Syech Siti Jenar diapit oleh dua muridnya yakni Pangeran Jagabayan dan Pangeran Kejaksan.

Terlepas dari berbagai kontroversi tentang Syech Siti Jenar, makam beliau di tiap-tiap daerah tetap dikunjungi banyak peziarah dengan beraneka niat dan tujuan. Kebiasaan yang telah berlangsung selama ratusan tahun memang sulit untuk dihilangkan dan tetap ada sesuai dengan apa yang diyakini masyarakat secara turun temurun.

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Maimun Zubair

Kyai Haji Maimun Zubair atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Moen lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 di Rembang, Jawa Tengah.

Eko Putro Sandjojo

"Seorang Pemimpin Yang Berhasil Harus Mampu Mempersiapkan Anak Buahnya Bekerja Dengan Baik Dan Sempurna."

Only One in the World

Religious Tourism in Bali? Why Don’t Try Ulun Mumbul Temple?

Ulun Mumbul Temple Springs for Life. Traveling to the island of Bali is a very pleasant tourist experience. Almost every corner there is a statue or as a form of worship and appreciation for Sang Hyang Widi. Read More...

Tradisi Keluarga

Makam Sunan Ngudung - Soko, Tuban, Jawa Timur

"Sunan Ngudung adalah Panglima Kerajaan Demak yang memimpin penyerangan ke Majapahit."

Makam Sunan Giri - Kebomas, Gresik, Jawa Timur

"Sunan Giri adalah pencipta beberapa permainan anak seperti Cublak Suweng dan macapat Asmarandana."

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Mas Tajib (Kromodimoeljo), Mas Rara Mien, Mas Rara Soekati, Mas Karsono (Karsooetomo), Mas Soelardam (Reksokoesoemo).
  • Sastrosoepoetro, Soepetanti, Hartati, Hartini, Goembreg, Soemitrati, Soerjadi, Goenoengsoerjanto, Wijadi
  • Mas Hadisoendjojo, Mas Rara Soendjajani, Mas Rara Soedarjati, Soedarsi, Mas Soebenoe, Mas Soetojo, Soebadi, Soenarti
  • Mas Soewardjo, Mas Sakmadi, Mas Rara Soearah, Mas Soedjono, Mas Soewardi (Poedjoasmoro), Mas Roro Soemijati, Mas Soegono, Mas Rara Soewersi

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...