Bagaimana Peternak Sapi dan Kerbau Menjaga Tradisi Nusantara?

Pada jaman dahulu, ternak sapi atau kerbau diternakkan tidak hanya untuk konsumsi, melainkan untuk tabungan, tradisi, bahkan objek sentral dari sebuah ritual.

Tidak hanya tabungan keluarga, tapi juga tabungan adat. Hal ini berlaku pada Masyarakat Sumba Timur, sesuai penelitian yang dilakukan oleh  Yanto Kambaru Njuka Jehik, di Desa Kambatatana Kecamatan Pandawai Kabupaten Sumba Timur. Hasilnya dituangkan dalam satu makalah dengan judul "Makna Ternak Sapi Bagi Masyarakat Sumba Timur".

Penduduk di wilayah tersebut, lebih rela menjual ternaknya karena tuntutan adat, bukan karena masalah ekonomi. Bahkan bila ada kegiatan adat yang harus dilaksanakan dengan amat mendesak, mereka ikhlas menjual ternak sapinya dengah harga dibawah harga pasar.

Hebatnya lagi, demi kekerabatan misalnya ketika ada keluarga yang meninggal, maka mereka akan menyumbang sapi kepada kerabat yang berduka. Namun sayangnya, tradisi tersebut menyebabkan perkembangan usaha ternak sapi terhambat, karena sapi dipelihara ala kadarnya.

Hal serupa terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, utamanya untuk ternak kerbau. Bagi masyarakat dari Suku Toraja, kerbau tidak bisa dilepaskan dari adat-istiadat mereka. Kerbau selalu menjadi kebutuhan dalam pelaksanaan ritual adat baik dalam upacara adat Rambu Solo maupun Rambu Tuka. Malah, tanpa adanya kerbau, proses upacara adat tidak dapat dilakukan.

Keadaan ini akhirnya membuat peternakan kerbau sangat bernilai di sana. Pertama, karena kerbau dianggap sebagai lambang kekayaan dan kemakmuran. Mereka percaya sekaya apapun seseorang, semewah apapun rumah dan kendaraan mereka akan tidak ada artinya tanpa memiliki kerbau.

Kedua, kerbau juga dianggap sebagai kendaraan suci bagi masyarakat Toraja. Inilah alasan mengapa kerbau selalu dijadikan salah satu persembahan wajib pada setiap ritual adat terutama dalam upacara kematian.

Masyarakat Toraja memang percaya bahwa dahulu leluhur mereka turun ke bumi dengan menggunakan kerbau dari surga. Makanya, kerbau juga dipercaya sebagai kendaraan suci yang dapat mengantar orang yang sudah meninggal untuk kembali ke surga.

Ketiga, kerbau dianggap sebagai tolak ukur dari kehidupan sosial dalam masyarakat Toraja. Kepemilikan kerbau menjadi dasar tingkat status sosial seseorang. Semakin banyak atau mahal kerbau yang dimiliki, maka akan semakin tinggi juga kehormatan orang itu dalam ruang sosial.

Sapi Suci

Berbeda dengan masyarakat Toraja yang mengagungkan kerbau, di Bali justru sapi yang disucikan dan dianggap sebagai hewan penting dalam kehidupan sosial. Pandangan orang Bali soal sapi ini tidak lepas dari keadaan mayoritas masyarakatnya yang menganut agama Hindu.

Dalam Kitab Catur Weda, sapi dianggap sebagai hewan yang agung. Sapi juga dianggap sebagai pelindung bagi manusia. Masyarakat bali juga menganggap sapi suci karena merupakan tunggangan Dewa Batara Syiwa.

Namun tidak semua sapi dianggap sebagai hewan suci di Bali. Penafsiran hewan suci yang ada dalam Kitab Catur Weda adalah sapi berjenis lembu.

Biasanya pada setiap upacara adat, lembu putih digunakan sebagai sarana pelengkap untuk menyempurnakan proses ritual. Masyarakat Bali memiliki pandangan bahwa lembu atau sapi putih memiliki kekuatan yang mampu memberikan energi positif terhadap perlangsungnya sebuah upacara adat.

Masyarakat Kudus, Jawa Tengah pun punya tradisi yang dipegang teguh hingga sekarang. Setiap hari raya kurban mereka tak menyembelih sapi meski hewan ini sama sekali tak diharamkan buat para pemeluk Islam. Sebagai gantinya masyarakat Kudus menyembelih kerbau atau kambing.

Bukan tanpa sebab tradisi ini ada di Kudus. Dalam kajian Sri Indrahti berjudul Kudus dan islam: Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Industri Wisata Ziarah, disebutkan tradisi ini untuk menghormati para pemeluk agama Hindu. Hal ini dimulai ketika Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di wilayah itu.

Dalam rangka mengambil hati masyarakat Hindu yang merupakan penduduk mayoritas saat itu, Sunan mengumumkan larangan bagi masyarakat Kudus agar tidak menyembelih dan makan daging sapi untuk menghormati pemeluk agama Hindu. Alhasil, metode itu akhirnya membuat sebagian besar pemeluk agama Hindu bersimpati kepada Sunan Kudus dan masuk Islam.

Muncul juga alasan lain kenapa masyarakat Kudus tak pernah menyembelih sapi, berdasarkan cerita rakyat karena mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus. Dahulu Sunan pernah merasa dahaga, kemudian ditolong oleh seorang pendeta Hindu dengan diberi air susu sapi. Sebagai ungkapan terima kasih dari Sunan Kudus, maka masyarakat Kudus dilarang menyembelih sapi.

Berawal tradisi inilah, tak heran kalau Kudus menjadi salah satu daerah penghasil kerbau. Bahkan lewat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 830/KPTS/RC.040/12/2016 tentang lokasi pengembangan kawasan pertanian nasional menetapkan Kudus sebagai salah satu kawasan pengembangan peternakan kerbau nasional.

Aceh pun punya tradisi unik tiap jelang menyambut bulan suci Ramadan yang dinamakan meugang. Tradisi ini bagaimana juga mampu menumbuhkan peternakan tradisional sebab tradisi ini merupakan tradisi membeli daging, memasak dan memakannya bersama keluarga.

Meugang pertama sekali diperingati pada masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin Sultan Iskandar Muda yang berkuasa tahun 1607-1636. Istilah makmeugang bahkan diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan. Meugang paling tidak memiliki makna silaturrahmi dan wujud rasa gembira menyambut bulan suci Ramadan.

Waktu itu, pihak kerajaan memerintah perangkat desa mendata warga miskin, kemudian diverifikasi oleh lembaga resmi (Qadhi) kesultanan untuk memilih yang layak menerima daging. Kemudian Sultan kemudian memotong banyak ternak, dagingnya dibagikan kepada mereka secara gratis.

Tradisi ini terus berlanjut bahkan ketika Belanda menginvasi Aceh sejak 1873. Meski kerajaan kalah dan bangkrut, rakyat Aceh tetap memperingati tradisi dengan membeli sendiri daging. Akhirnya tradisi meugang bertahan hingga kini.

Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga biasanya membeli satu hingga tiga kilogram daging untuk disantap bersama. Tapi bagi mereka yang mampu membeli daging dalam jumlah banyak dan membagikan kepada anak yatim, atau tetangganya yang tak mampu.

Sedangkan untuk pria baru menikah, akan jadi aib kalau meugang tak membawa pulang daging ke rumah mertuanya. Tapi sebaliknya merupakan kebanggaan keluarga, kalau si pria pulang dengan kepala sapi atau kerbau. Di pedesaan yang adatnya masih kuat, bahkan orangtua akan melarang anak-anaknya bermain ke rumah tetangga atau sekolah pada hari meugang. Mereka wajib makan di rumah.

Meugang bukan hanya diperingati menjelang Ramadhan. Sehari jelang Idul Fitri dan Idul Adha, tradisi ini tetap dilakoni warga Aceh. Tapi meugang puasa selalu lebih meriah, karena Ramadhan punya arti sendiri bagi masyarakat Serambi Mekkah.

 

Adu Kecepatan

Namun pemanfaatan sapi dan kerbau dalam tradisi ini tak melulu urusan konsumsi. Di Madura terdapat satu tradisi yang melibatkan sapi di dalamnya, yakni karapan sapi. Karapan sapi bisa dikatakan sebagai sebuah lomba adu kecepatan antara sapi-sapi yang dikendalikan oleh seorang joki.

Biasanya sepasang sapi ditugaskan menarik semacam kereta yang terbuat dari kayu kemudian dipacu secepat mungkin ke garis akhir yang biasanya berjarak 100 meter.

Tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan Agustus dan September. Sedangkan untuk pertandingan final biasanya dilakukan pada akhir Oktober di luar Kota Karesidenan Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Hampir sama dengan Karapan sapi, masyarakat Bali juga mengenal tradisi bernama Makepung. Bedanya, yang adu kecepatan bukannya sapi melainkan kerbau. Penggunaan kerbau dianggap sebagai alternatif karena sapi merupakan hewan yang disucikan dalam masyarakat Bali.

Sumber: validnews.id

 

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Sandiaga Uno

Sandiaga Salahuddin Uno lahir di Pekanbaru, Riau, 28 Juni 1969. Tokoh muda yang mulai naik daun sejak terpilih menjadi Wakil Gubernur Jakarta bersama Anies Baswedan ini merupakan seorang politisi…

Fadli Zon

Fadli Zon merupakan salah satu politikus terkenal dari Indonesia, yang lahir di Jakarta pada tanggal 1 Juni 1971.

Ahmad Dhani

Ahmad Dhani Prasetyo atau juga dikenal sebagai Ahmad Dhani lahir di Surabaya pada tanggal 26 Mei 1972. 

Prabowo Subianto

Terlepas dari suka atau tidaknya Anda untuk mengikuti perkembangan dunia politik tanah air, nama Prabowo Subianto pasti sudah tidak asing lagi di telinga Anda.

Tradisi Keluarga

Mempercantik Rumah Dengan Furnitur dan Barang Antik Mewah

Furnitur rumah memang menjadi bagian dalam rumah yang perlu diperhatikan. Furnitur yang bagus tentu akan membuat rumah semakin cantik. Tak terkecuali dengan barang antik yang bisa dijadikan furnitur rumah Anda.

Berbagai Mainan Anak yang Menjadi Barang Antik Paling Diburu

Mengoleksi barang antik merupakan salah satu hobi yang dianggap menarik oleh sebagian orang, termasuk jenis koleksi mainan anak-anak. Tapi jangan salah, meskipun mainan anak-anak, namun beberapa di antaranya ada yang langka dan berharga mahal, lho.

Only One in the World

Catur Lokapala Temple: The Heart of Pura Besakih

Seeing what is Unseen from the Catur Lokapala Temple. Talking about Catur Lokapala is inevitably talking about Pura Besakih as well. Pura Besakih is one of the most important religious buildings for Hindu people in Bali. Read More...

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Raden Doekseno, Raden Soedono, Raden Dirman, Raden Ngabibah
  • Mas Poerwaredja (Josodimedjo), Mas adjeng Wonodjoio (Soedjilah), Mas Kromoprawiro (Soerodo), Mas Adjeng Poespowikroma (Soemilah), Mas Kromosasmito (Soedarman), Mas Adjeng Kromoastro (Soemini), Mas Soewadi (Kartoadiardjo)
  • Mas Rara Soetami, Mas Rara Hasri, Mas Sajoekti, Mas Soesatio, Mas Rara Slamet, Mas Soeketi
  • Raden Ajoe Koesoemowisastro (Roosmi), Raden Wirijokoesoemo (Djajoes), Raden Nganten Soerokoesoemo (Roekijah), Raden Samsoe (Kartoamiredjo), Raden Nganten Koesoemodiwirio (Rademi), Raden Noto, Raden Nganten Mertokoesoemo (Resmi), Raden Goenadi, Radcn Nganten…

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...