Empat Tradisi Lebaran di Tanah Blambangan

Indonesia merupakan negara yang besar. Bukan hanya besar dari segi wilayahnya, melainkan juga besar berkat keanekaragaman yang dimilikinya. Membentang luas dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur, dari Miangas di sisi utara hingga Pulau Rote di sisi selatan, Indonesia dilimpahi dengan begitu keanekragaman hayati yang luar biasa banyak.

Demikian halnya dengan suku yang mendiami setiap wilayahnya yang begitu beragam. Setiap pulau bahkan dihuni oleh suku yang berbeda-beda. Menakjubkannya lagi, setiap pulau tak jarang memiliki suku yang beragam pula. Salah satunya adalah Pulau Jawa yang dihuni beragam suku. Di ujung timur Pulau Jawa misalnya, terdapat Kabupaten Banyuwangi. Berjuluk Tanah Blambangan, kabupaten yang berbatasan dengan Pulau Bali di sisi timurnya ini dihuni oleh Suku Osing.

Berbeda dengan kebayakan masyarakat Jawa Lare Osing pun memiliki budaya yang berbeda, termasuk saat perayaan Lebaran. Nah, seperti apa kira-kira budaya unik masyarakat Osing dalam merayakan suka cita Lebaran, berikut akan kami ajak Anda mengenal empat tradisi lebaran di Tanah Blambangan.

 

Barong Ider Bumi

Sebagai negera dengan masyoritas berpenduduk Muslim, tidak mengherankan jika di banyak wilayahnya juga memiliki tradisi dalam merayakan Idul Fitri. Di banyuwangi misalnya, pasca perayaan Lebaran, terdapat 4 tradisi unik yang digelar yang diyakini untuk mengusir bala atau bencana.

Tradisi yang pertama adalah Barong Ider. Digelar pada tanggal 2 Syawal atau hari kedua Lebaran, tradisi ini dilaksankan di Desak Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Usia tradisi ini sudah sangat tua, mencapai ratusan tahun. Masih terus dilestarikan hingga di abad modern ini, tradisi tersebut nyatanya menyimpan makna filosofi yang dalam.

Untuk mengetahui apa itu Barong Ider Bumi, kita harus menguliti (ngonceki: Bahasa Jawa-red) makna di balik setiap nama itu. Barong sendiri dalam Mitologi Jawa dan Bali adalah sosok makhluk berkaki empat atau dua dengan kepala singa.  Dalam kepercayaan animism, Barong diyakini sebagai perwujudan nilai-nilai kebaikan dan keadlian. Selain itu, Barong juga dilambangkan sebagai figus yang mampu melawan kekuatan jahat dari perwujudan iblis bernama Rangda.

Berikutnya, Ider Bumi berasal dari dua kata, yaitu Ider yang berarti berkeliling dan Bumi yang berarti Bumi tempat berpijak. Dengan demikian Ider Bumi bisa diartikan sebagai kegiatan mengelilingi tempat berpijak atau Bumi.) Merujuk pada pemaknaaan kata tersebut Barong Ider Bumi bisa diartikan secara singkat sebagai ritual untuk menolak bala atau bencana.

Ritual ini sendiri sudah dimulai pada 1840 silam. Saat itu, Kemiren tengah terserang wabah penyakit yang aneh dan menyebabkan banyak warganya meninggal. Para petani pun mengalami gagal panen. Melihat kejadian yang menimpa tersebut, seorang sesepuh desa lantas meminta petunjuk kepada Mbah Buyut Cili - yang makamnya masih terus dirawat sampai saat ini. Wangsit pun datang melalui mimpi. Di dalam mimpi ditunjukan bahwa para warga diminta mengarak Barong yang menggunakan pakaian adat Indonesia dengan  diiringi oleh musik tradisional sebagai bentuk tolak bala. Akhirnya, tradisi tersebut pun lantas terus dipertahankan hingga kini.

Prosesi adat tersebut diawali dengan memandikan alat musik tradisional yaitu angklung, oleh para sesepuh di bali desa Kemiren. Selanjutnya, Barong diarak keliling desa sembari diiringi nyanyian Jawa yang berisi doa yang ditujukan kepada nenek moyang dan Tuhan untuk menolak bala dan memohon keselamatan.

Barong tersebut diarak sejauh 2 kilometer, berawal dari pusaran atau gerbang masuk desa menuju tempat mangku barong atau di pintu keluar desa. Sepanjang jalan arak-arakan itu dilakukan, para tokoh adat akan melakukan tradisi Sembur Utik-utik, yaitu kegiatan menerbakan uang logam, beras kuning dan bunga sebagai simbol menolak bala. Sebelum akhirnya disebar, ketiga benda itu dibawa oleh rombongan tokoh adat dan para sesepuh desa dalam sebuah wadah bernama bokor.

Satu hal yang menarik, uang logam yang dibawa dalam prosesi ini harus tepat bernilai Rp 99.900 dan bunga yang digunakan jumlahnya juga harus ada 9. Bukan tanpa alasan, penggunaan angka 9 tersebut merujuk pada 99 Nama Allah (Asmaul Husna). Hal ini sekaligus menandai adanya percampuran budaya setempat dengan nilai-nilai Islam.

Usai arak-arakan mencapai ujung desa, warga pun akan berebut memakan pisang yang dipajang. Terdapat kepercayaan bahwa warga yang berhasil memakan pisang tersebut, konon akan diberkati dan diberi keselamatan serta kemudahan dalam hidupnya.

Prosesi belum usai, acara dilanjutkan dengan selamatan yang dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Tumpeng Pecel Pitik pun menjadi kuliner khas yang disajikan dalam selamatan tersebut.

 

 

Puter Kayun

Tradisi lain masyarakat Banyuwangi pasca Idul Fitri adalah Puter Kayun. Dilaksanakan pada hari ke-10 Lebaran, tradisi ini terbilang  sangat unik dan sangat memikat hati banyak warga bahkan pelancong yang datang. Dalam tradisi ini, para warga akan beramai-ramai datang menuju Pantai Watudodol yang berada di Kecamatan Kalipuro. Jarak kedua kecamatan tersebut cukup jauh, mencapai 15 kilometer.

Dalam tradisi Putar Kayun tersebut, arak-arakan ke Pantai Watudodol menggunakan andong. Namun, tidak sembarang kusir yang mengendalikan andong-andong tersebut. Hanya kusir yang berada di Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri saja yang bisa mengemudikan andong dalam prosesi adat tersebut. Untuk diketahui, di Kelurahan Bonyolangu banyak warga yang memiliki usaha angkutan andong, sehingga tak mengherankan jika banyak warga yang juga berprofesi sebagai kusir.

Ramai warga menuju pantai Watudodol itu bukan tanpa arti, melainkan sarat akan makna. Untuk mengupas makna di balik tradisi ini, terlebih dahulu kita bedah makna dari Puter Kayun.

Puter berarti keliling dan Kayun berarti gembira. Dengan demikian, tradisi ini bisa dikatakan sebagai ungkapan kegembiraan yang diwujudkan dalam kunjungan bersama ke Pantai Watudodol. Dipilihnya pantai tersebut untuk dikunjungi juga bukan tanpa alasan, melainkan karena ada sejarahnya.

Konon, pada masa penjajahan Hindia Belanda, daratan Watudodol digunakan sebagai jalan raya oleh Belanda. Namun, di tepi pantai tersebut terdapat batu besar yang sulit dihancurkan. Warga setempat yang diminta memecah batu tersebut tak jua berhasil.

Sebaliknya, banyak korban nyawa berjatuhan. Termasuk memberlakukan kerja rodi bagi warga pribumi yang pada akhirnya banyak yang mati. Hingga akhirnya Bupati pertama Banyuwangi (1773-1781), Raden Mas Alit, membuat sayembara bagi siapa yang yang bisa memecahkan batu besar tersebut.

Seorang sakti dari Boyolangu pun konon mendengar sayembara tersebut. ia pun lantas menuju Watudodol dan melakukan ritual. Usai melakukan komunikasi dengan jin penunggu batu raksasa, batu besar akhirnya berhasil dipecahkan. Akan tetapi, terdapat 3 syarat yang diajukan Jin agar batu bisa dipecahkan.

Syarat tersebut diantaranya, batu boleh dipecahkan asal tidak melewati batas yang telah ditentukan. Kemudian harus terdapat batu yang disisakan sebagai tempat tinggal jin dan syarat terakhir adalah para keturunan Buyut Jokso diminta mengunjungi Watudodol sesekali. Nah, dari syarat yang ketiga tersebut, lantas tradisi Puter Kayun muncul dan terus dilestarikan hingga kini.

Terlepas dari kebenaran dari legenda ini, satu hal yang jelas tradisi yang sudah mengakar kuat sejak lama di Boyolangu ini sekarang justru menjadi magnet yang mampu memikat banyak pengunjung datang ke Banyuwangi.

Sementara itu, saat Anda datang ke Pantai Watudodol, akan tampak batu besar yang membelah jalan raya yang menghubungkan Banyuwangi ke Situbondo.  Keeksotisan batu besar itu semakin lengkap berpadu dengan pemandangan pantai Watudodol yang indah.

 

 

Seblang

Tak kalah menarik dari Puter Kayun, Banyuwangi juga memiliki tradisi lain yang biasanya dilaksanakan pasca Lebaran tiba. Namanya adalah Seblang. Tradisi ini terdapat dua macam berdasarkan tempatnya, yaitu tradisi Seblang Olehsari dan tradisi Seblang Bakungan. Baik Olehsari maupun Bakungan adalah sama-sama nama desa yang berada di Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Tradisi Seblang merupakan bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas hilangnya wabah pageblug yang ada di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah. Dalam masyarakat Jawa, pageblug diartikan sebagai kejadian wabah penyakit diare dan muntah ganas hingga menyebatkan penderitanya meninggal. Apabila terserang pada pagi, sorenya bisa meninggal.

Bukan hanya itu, desa tersebut juga sempat diwarnai fenomena gagal panen akibat serangan hama pertanian yang dahsyat. Kondisi memilukan ini terjadi sekitar tahun 1930an. Menilik latar belakang tersebut, dapat disimpulkan bahwa tradisi Seblang berkaitan erat dengan upaya masyarakat setempat dalam mencegah kerawanan pangan. Namun, versi lain mengatakan jika tradisi ini sudah lebih tua dari tahun kejadian pageblug tersebut.

Konon, Seblang Olehsari sudah ada sejak sebelum Kerajaan Blambangan. Sebelumnya, tradisi tersebut dinamakan Sahyangwidasari oleh umat Hindu. Tradisi ini merupakan perlambang kesuburan. Dalam perkembangannya ketika Islam masuk yang dibawa oleh Wali Songo, tradisi ini tetap hidup yang kemudian bernama Seblang.

Nama Seblang berasal dari kata “Seb” yang berarti diam dan “Lang” yang berarti langgeng atau abadi. Menilik dari arti kata pada namanya itu, tidak mengherankan jika Seblang dilakukan dalam keadaan diam atau senyap sejak awal dimainkan hingga berakhir. Seblang sebenarnya adalah tarian yang sarat akan nuansa mistis. Penarinya adalah wanita dan telah kesurupan oleh makhluk halus. Dalam tradisi ini, terdapat pawang yang membantu mengendalikan penari yang kesurupan.

Di Olehsari sediri, tarian Seblang dilakukan oleh gadis remaja yang masih memiliki garis keturunan Ibu secara turun temurun, lengkap dengan pakaian adat Indonesia, khususnya suku jawa. Artinya bahwa penari Seblang tidak bisa sembarang gadis, melainkan harus yang merupakan dari keturunan garis ibu yang ditunjuk oleh roh leluhur unruk melakukan tarian tersebut. Dikisahkan bahwa selama 7 hari di bulan Syawal, sebelum tradisi Seblang Olehsari digelar, keluarga penari lebih dulu mengadakan selamatan dengan memberi sesaji di empat penjuru. Tujuannya adalah untuk mengundang leluhur hadir dalam perayaan Tradisi Seblang Olehsari.

Kerawanan pangan, penari Seblang Olehsari digambarkan sebagai Dewi Kesuburan. Masyarakat setempat meyakini dengan dilaksanakannya tradisi tersebut, akan tercipta rasa aman, keselamatan, perlindungan, kesehatan, rejeki, kesuburan dan hasil panen yang melimpah.

Selama pelaksanaan, tarian Seblang diiringi musik tradisional berupa gendhing yang isinya anjuran bercocok tanam. Hal ini diantaranya terdengar dari liriknya yang berbunyi. ”Lare angon, gumuk iku paculono, sun tanduri kacang lanjaran.” Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, kalimat tersebut berarti “Para penggembala, cangkullah bukit itu. Akan aku tanami kacang panjang.

Tarian ini memberikan makna yang dalam terkait kekayaan yang ada di Olehsari. Hal tersebut salah satunya ditunjukan dengan keberadaan Parabungkil yang wajib ada di Seblang Olehsari. Parabungkil sendiri berisi beragam buah, sayur dan ubi-ubian yang menggambarkan keanekaragaman pangan di desa Olehsari. Selain itu, terdapat pula Kembang mongso yang merupakan bagian dari kembang dirmo dalam tradisi Seblang Olehsari.

Makna dari penggunaan kembang tersebut adalah anjuran untuk membaca musim sebelum bertani. Dengan menanam pada musim yang tepat. diharapkan petani akan bisa menuai hasil yang maksimal.

Sementara itu, berbeda dengan Seblang Olehsari yang ditarikan oleh remaja atau gadis, Seblang Bakungan justru ditarikan oleh wanita yang sudah tidak lagi muda bahkan berusia lanjut juga dengan menggunakan pakaian adat Indonesia, diiringi dengan musik tradisional khas jawa.

Konon, tradisi ini muncul pertama kali pada 1639 saat wilayah Bakungan masih berupan hutan. Para prajurit kerajaan pun kemudian melakukan Babat Wono atau babat hutan Bakungan, sehingga menjadi pemukiman. Nama Bakungan sendiri tidak terlepas dari sejarah tempat yang dibabat tersebut yang sebelumnya dipenuhi dengan bunga bakung.

Dalam proses babat wono tersebut, terdapat pohon Nogosari besar yang tersisa, karena tidak satu pun orang berhasil menebangnya. Usut punya usut, konon pohon itu tak bisa ditebang lantaran di dalamnya bersemayam 9 danyang atau penunggu.

Seorang sakti yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Mbah Joyo-lah yang mengetahui jika di dalam pohon ada banyak penunggu, setelah sebelumnya ia bertapa. Para danyang itu bersedia pindah asalkan syarat yang diajukan dipenuhi. Syarat tersebut tak lain adalah harus ada kesenian yang dilakukan dengan pakaian adat Indonesia dan musik tradisional  yang ditampilkan tiap tahun. Kesenian itu harus ditampilkan dalam keadaan senyap.

Mbah Joyo pun menyetujui syarat tersebut hingga akhirnya para danyang bisa dipindahkan ke berbagai tempat, seperti ke gunung Bakungan di Bali, gunung Purwo, gunung Sembulungan, gunung Baluran, gunung Ijen dan gunung Raung. Selain itu, para danyang juga ada yang dipindahkan ke tiga sumber mata air, yaitu Sukmo Ilang di Olehsari, sumber Galing dan sumber Penawar. Setelah para danyang bisa dipindahkan, pohon besar itu bisa ditebang dan akhirnya bisa dijadikan sebagai pemukiman seperti saat ini.

Terkait janji Mbah Joyo tersebut, kemudian dilangsungkan tradisi tahunan yang masih terus lestari hingga kini, yaitu Seblang. Sama halnya dengan Seblang Olehsari, Seblang Bakungan juga dipandu oleh pawang dalam pelaksanaannya. Berbeda dengan penarinya yang harus berasal dari penari pertama Seblang Bakungan, pawang bisa siapa saja yang memiliki bakat alami.

 

 

Diaspora Banyuwangi

Satu lagi tradisi unik yang ada di Banyuwangi pasca Idul Fitri, yaitu Diaspora Banyuwangi. Berbeda dengan 3 tradisi di atas yang cikal bakalnya telah ada sejak ratusan tahun, Diaspora Banyuwangi tergolong sebagai tradisi baru. Pasalnya, tradisi ini baru dimulai baru dalam hitungan tahun. Dalam tradisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengundang seluruh perantau yang tengah pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan jajaran pejabat pemkab setempat dan juga sesame warga yang merantau.

Acara tahunan yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi  pun semakin menarik karena diselingi pula dengan suguhan musik khas Tanah Blambangan. Kolaborasi musik tradisonal tersebut acap kali dipadukan dengan musik-musik modern, sehingga menciptakan warna baru yang tetap enak dinikmati di telinga sekaligus menambah ragam budaya bangsa.

Sebagai ajang silaturahmi, tak jarang jika dalam Diaspora Banyuwangi juga turut disajikan makanan-makanan khas. Tak pelak, hal ini menjadi magnet bagi para undangan, terlebih makanan disediakan secara cuma-cuma.

 

Demikian empat tradisi Lebaran di Tanah Blambangan yang sampai saat ini masih terus lestari. Keragaman budaya di kabupaten yang memiliki jargon Jenggirat Tangi, tersebut tak dipungkiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya nasional yang pada akhirnya merajut simpul ke-Indonesia-an. Bagaimana, Anda tertarik melihat tradisi tersebut? (y)

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Keluarga Sosrodjojo dan Profil Teh Botol Sosro

Anda tentu tidak asing dengan Teh Botol Sosro, bukan? Minuman teh botol kemasan dari Indonesia ini emang terkenal di saentero negeri. Dengan tagline “Apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro,”…

Ma’ruf Amin

Sejak maju sebagai calon wakil presiden bersama Jokowi, nama Ma’ruf Amin kian santer terdengar di mana-mana.

Only One in the World

Santo Yoseph Denpasar Church: A Unique Church in Town

Bali is a perfect picture of cultural melting process. One of the main tourist destinations in Indonesia, Bali offers unique cultural and religious attractions. The tourists can see a picture of harmony among different religions and cultures. Muslims, Hindus, Buddhist, and Chinese people live in a shared environment here. The point is that Balinese people love the culture. This is manifested in many ways, including architectural design of religious buildings like Santo Yoseph Church in… Read More...

Tradisi Keluarga

Mengulik Tradisi Ruwahan dan Hidangan Khasnya

Bicara soal budaya dan tradisi negeri ini memang tak pernah ada habisnya. Beragamnya suku dan agama tak pelak memunculkan beragam tradisi yang beragam pula. Salah satu tradisi yang masih mengakar kuat di Tanah Jawa adalah tradisi ruwahan.

Bagaimana Peternak Sapi dan Kerbau Menjaga Tradisi Nusantara?

Pada jaman dahulu, ternak sapi atau kerbau diternakkan tidak hanya untuk konsumsi, melainkan untuk tabungan, tradisi, bahkan objek sentral dari sebuah ritual.

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Mas Rara Soedjinah, Mas Rara Soedarsini, Mas Soeharjono, Mas Soebiakto, Mas Hertomo, Mas Rara Soemarni, Mas Soeharjoto
  • Sastrosoepoetro, Soepetanti, Hartati, Hartini, Goembreg, Soemitrati, Soerjadi, Goenoengsoerjanto, Wijadi
  • Mas Soedjono, Mas Soemartono, Mas Rara Siti Atidjah, Mas Oetomo
  • Mas Hoewarman, Mas Oewardojo, Mas Oewardjono, Mas Mochamad Ali