Grebeg Syawal Bentuk Kedermawanan Sultan Untuk Rakyatnya Saat Idul Fitri

Apabila mendengar kata “grebeg” mungkin yang terbesit di benak Anda adalah sebuah peristiwa penangkapan. Namun kosakata ini rupanya tidak bermakna demikian jika Anda bermain ke wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Berasal dari akar kata “gumrebeg” pemaknaannya diartikan sebagai suatu kegiatan yang riuh, ramai atau ribut. Disebutkan kata ini awalnya dimaknai sebagai tindakan raja yang menggerakan dunia.

Grebeg Syawal merupakan sebuah kegiatan Hajat Dalem yang digelar oleh Keraton Ngayogyakarta Hadininingrat untuk memeriahkan suasana Lebaran di Yogyakarta. Pada pagelarannya, sebanyak tujuh pareden atau gunungan akan diusung oleh abdi dalem dengan dikawal oleh Prajurit Bregodo akan dihantarkan untuk diperebutkan oleh masyarakat banyak. Gunungan tersebut terdiri dari hasil alam, baik mentah maupun matang seperti sayur mayur, buah-buahan hingga makanan tradisional.

Iring-iringan gunungan ini menjadi perlambang sedekah Sultan untuk rakyatnya dalam membagikan keberkahan. Setiap gunungan memiliki namanya masing-masing seperti Lanang, Wadon, Darat, Gepak, Kakung, Putri dan Pawuhan.

Sebelum diantarkan kepada masyarakat, semua gunungan tersebut akan diarak ke Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman dan Kantor Kepatihan untuk didoakan. Doa-doa yang dipanjatkan diantaranya adalah harapan kepada yang Maha Kuasa agar dilimpahkan kebaikan, kemakmuran, kesejahteraan serta keselamatan untuk keluarga sultan dan rakyat, dan seluruh nusa bangsa. Setelahnya gunungan akan diarak menuju Alun-alun utara Keraton dan bersiap untuk diperebutkan oleh warga.

Puncak keseruan akan dimulai saat warga mulai berjibaku memperebutkan bahan-bahan di gunungan tersebut. Bagi mereka bukan seberapa banyak bahan atau makanan yang bisa didapatkan, melainkan harapan untuk mendapatkan limpahan keberkahan.

Sementara masyarakat diluar melakukan perebutan hasil bumi, pihak Keraton justru mengadakan upacara sungkeman. Acara ini hanya melibatkan kerabat Keraton, serta beberapa Bupati dan Walikota di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Upacara sungkeman tersebut dibagi menjadi tiga sesi, yaitu Pisowanan Ngabekten Hageng yang diadakan pada pagi hari sekitar pukul 9.30 di Bangsal Kencana untuk para sentana (kerabat Keraton) laki-laki. Sementara itu di waktu yang sama, Ngabekten Putri akan diadakan di Tratag Bangsal Prabeyaksa. Menyusul pada siang harinya acara sungkeman digelar untuk abdi dalam wedana.

Di Yogyakarta, tradisi grebeg sendiri bisa diadakan sebanyak tiga kali dalam setahunnya. Seperti Grebeg Maulud untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW, kemudian Grebeg Syawal Saat Idul Fitri, dan yang terakhir adalah Grebeg Besar saat Idul Adha. Uniknya kegiatan ini memang sudah berlangsung selama ratusan tahun dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Jusuf Kalla

Tidak banyak orang yang mampu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dalam dua periode pemerintahan.

Sandiaga Uno

Sandiaga Salahuddin Uno lahir di Pekanbaru, Riau, 28 Juni 1969. Tokoh muda yang mulai naik daun sejak terpilih menjadi Wakil Gubernur Jakarta bersama Anies Baswedan ini merupakan seorang politisi…

Only One in the World

Santo Yoseph Denpasar Church: A Unique Church in Town

Bali is a perfect picture of cultural melting process. One of the main tourist destinations in Indonesia, Bali offers unique cultural and religious attractions. The tourists can see a picture of harmony among different religions and cultures. Muslims, Hindus, Buddhist, and Chinese people live in a shared environment here. The point is that Balinese people love the culture. This is manifested in many ways, including architectural design of religious buildings like Santo Yoseph Church in… Read More...

Tradisi Keluarga

Menghargai Waktu Dengan Mengumpulkan Jam Antik

Barang antik sekarang memang diburu sebagai koleksi oleh banyak orang. Mulai dari mobil antik, motor antik, perabot rumah yang antik, dan sebagainya. Satu hal yang tidak ketinggalan adalah jam antik.

Mengenal Berbagai Tradisi Syawalan di Pulau Jawa

Idul Fitri menjadi bulan yang istimewa bagi umat Muslim. Hari yang juga dikenal dengan Lebaran oleh masyarakat Indonesia ini, identik dengan tradisi mudik atau pulang kampung. Tradisi tahunan ini lazim di seluruh penjuru Tanah Air. Namun, di beberapa daerah…

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Raden Ajoe Koesoemowisastro (Roosmi), Raden Wirijokoesoemo (Djajoes), Raden Nganten Soerokoesoemo (Roekijah), Raden Samsoe (Kartoamiredjo), Raden Nganten Koesoemodiwirio (Rademi), Raden Noto, Raden Nganten Mertokoesoemo (Resmi), Raden Goenadi, Radcn Nganten…
  • Mas Adjeng Soemodirono (Hoemi), Mas Sastrodiwirio (Oesoep), Mas Adjeng Kartodiwirio (Hoemarmi), Oemar, Aboe, Mas Oesman (Soemodisastro), Mas Olan (Sastrokoesoemo), Oemini, Mas Rara Oewarsiti, Mas Moeljono
  • Raden Soepardan (Mas Ngabehi Taroesoewignjo), Ngali, Raden Soeparso (Kartosoediro), Raden Nganten Nitikoesoemo (Soeparsi), Raden Soenarto, Raden Nganten Soeroasmoro (Soeparti), Soeparno, Raden Soepnandar (Sastrosoeputro), Soeprijo, Sribanoen.
  • Soedjimah, Genoek, Soerodipoero