Makam Ratu Kalinyamat - Tahunan, Jepara, Jawa Tengah

"Ratu Kalinyamat adalah puteri raja Demak, yang terkenal karena keberaniannya melawan pasukan Portugis."

Di kota Jepara, Jawa Tengah, terdapat sebuah komplek makam yang ramai dikunjungi oleh banyak peziarah dari berbagai daerah. Komplek makam ini merupakan pusara tokoh bangsawan Jepara yakni Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadlirin, dan keluarga dekatnya.

Masyarakat jawa pada umumnya memang memiliki kebiasaan dan tradisi berziarah, dengan tujuan untuk nyadran atau nyekar ke makam-makam tokoh yang diharapkan karomahnya karena dikenal memiliki kesaktian. Umumnya, tradisi nyekar ini dilakukan ke makam para raja atau ratu, bangsawan, dan tokoh-tokoh spiritual, termasuk ke makam Ratu Kalinyamat ini.

Siapakah Ratu Kalinyamat? Ratu Kalinyamat adalah puteri raja Demak, Sultan Trenggana. Beliau memiliki nama asli Retna Kencana. Pada saat usia remaja, Retna Kencana dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat yang berasal dari luar Jawa, maka sebutannya berubah menjadi Ratu Kalinyamat. Karena pernikahan ini, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota kerajaan Demak dan memperoleh gelar Sunan Hadlirin.

Sunan Hadlirin kemudian memerintah daerah Jepara,  bersama-sama dengan Ratu Kalinyamat yang diangkat menjadi Bupati yang membawahi daerah Jepara. Saat menjadi bupati, Ratu Kalinyamat dikenal pemberani bahkan memiliki kontribusi dalam perlawanan bangsa terhadap penjajah khususnya Portugis. Beliau pernah mengirimkan pasukan Jepara yang bergabung dengan pasukan persekutuan Melayu untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis. Di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara berkembang menjadi kerajaan yang memiliki kekuatan maritim yang kuat.

Selain rajin melatih ketrampilan dalam berperang, Sunan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat juga memiliki kebiasan mengolah batin dengan cara bertapa. Mereka berdua memiliki tempat (pesanggrahan) khusus untuk bersemadi di desa Mantingan. Di lokasi inilah yang nantinya menjadi tempat pemakaman Sunan Hadlirin, yang meninggal dunia dalam satu pertempuran dengan Bupati Jipang, Aryo Penangsang.

Dikisahkan bahwa sebelumnya pada tahun 1549, utusan Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata, raja Demak yang keempat yang merupakan kakak dari Ratu Kalinyamat. Saat melihat jenazah Sunan Prawata, Ratu Kalinyamat menemukan keris milik Sunan Kudus yang menancap pada mayat kakaknya tersebut.

Kaget dengan kejadian tersebut, Ratu Kalinyamat bersama dengan Sunan Hadlirin langsung berangkat untuk menuntut kejelasan dan keadilan kepada Sunan Kudus. Kemudian dijelaskan oleh Sunan Kudus bahwa alasan Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata karena dia telah membunuh ayah Arya Penangsang semasa muda.

Namun malang dalam perjalanan pulang ke Jepara, mereka dihadang oleh anak buah Arya Penangsang. Maka terjadilah pertempuran sengit diantara keduanya. Karena kalah jumlah, Sunan Hadlirin pun tewas dalam peristiwa tersebut. Peristiwa ini disebut juga sebagai upaya perebutan kembali kekuasaan kerajaan Demak yang seharusnya jatuh kepada Arya Penangsang.

Sejak kepergian suaminya, Ratu Kalinyamat kerap bertapa secara telanjang di makam suaminya. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk membuat masjid didekat tempat tersebut yang nantinya dikenal dengan nama masjid Mantingan. Masjid dan makam Mantingan terletak 5 kilometer ke arah selatan dari pusat kota Jepara. Masjid ini termasuk masjid tertua kedua setelah masjid Demak.

Masjid ini juga menjadi saksi adanya aktivitas penyebaran agama Islam di pesisir pulau Jawa. Selain dari sisi historis dan religius, masjid Mantingan juga memiliki nilai seni yang mampu menarik perhatian peziarah. Bangunan masjid ini dihiasi oleh ukiran-ukiran batu yang dipengaruhi oleh budaya Tiongkok. Bukti akulturasi budaya antara Hindu dan Islam terlihat dari adanya gerbang candi di depan makam dan masjid. 

Makam di Mantingan ini dianggap sebagai makam keramat oleh masyarakat dan tidak sedikit pula peziarah yang bertujuan ngalap berkah disana. Apalagi saat  memperingati meninggalnya Sultan Hadirin pada tanggal 17 Robiul Awal. Pada saat itu peziarah melakukan beberapa prosesi yang dilakukan setiap tahunnya, salah satunya adalah mengganti penutup makam yang disebut sebagai prosesi buka luwur.  Selain makamnya, tempat pertapaan Ratu Kalinyamat juga dipenuhi oleh peziarah yang mengharap karomah agar memiliki kecantikan seperti Ratu Kalinyamat. 

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Dr.(H.C.) K. H. Abdurrahman Wahid adalah Presiden RI yang keempat.Inilah kisah hidupnya dan susunan keluarga beliau.

Fadli Zon

Fadli Zon merupakan salah satu politikus terkenal dari Indonesia, yang lahir di Jakarta pada tanggal 1 Juni 1971.

Only One in the World

Peacefull of the Rambut Siwi Temple Spread Religious Aura in Bali

What Are Special about Rambut Siwi Temple So That Makes People Come There Over and Over? Read More...

Tradisi Keluarga

Rumah Cantik Dengan Peralatan Makan Antik

Mengoleksi barang antik menjadi sebuah hobi yang unik. Biasanya, orang-orang yang suka dengan benda-benda antik adalah yang mempunyai jiwa seni tinggi. Bagi orang biasa benda yang dikoleksi mungkin terkesan biasa saja, namun tidak bagi penyukanya. Meski harus…

Ngabuburit di Masjid Lautze Bareng Mualaf Tionghoa Saat Ramadhan

Berkunjung ke wilayah Pecinan di Pasar Baru Jakarta, siapa sangka terdapat sebuah masjid di antara bangunan ruko-ruko lainnya. Masjid ini tepatnya beralamat di Jalan Lautze No.87-89, RT 10/RW 03 Karang Anyar, Sawah Besar, Jakpus.

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Raden Nganten Soemodiwerio (mas rara Sakinah), Mas Rara Sakirah, Mas Rara Soemeni, Mas Soeredjo (Sardjoe), Mas adjeng Soemodiwirio (Mas Rara Soedji), Mas Rara Soewilah, Mas Adjeng Kromoredjo (Mas Rara Sakilah), Mas Adjeng Ronodipoero (Satidjah), Mas Rara…
  • Mas Rara Soemarsini, Mas Soewignjo, Mas Rara Soetiati, Mas Siratmardanoes, Mas Rara Soekarti, Mas Banoearli, Mas Rara Isnaningsih, Mas Soedarto, Mas Nganten Soemarni, Mas Nganten Soekarli
  • Raden Soepardan (Mas Ngabehi Taroesoewignjo), Ngali, Raden Soeparso (Kartosoediro), Raden Nganten Nitikoesoemo (Soeparsi), Raden Soenarto, Raden Nganten Soeroasmoro (Soeparti), Soeparno, Raden Soepnandar (Sastrosoeputro), Soeprijo, Sribanoen.
  • Raden Nganten Wirjo (Tari), Raden Nganten Nitisoedarmo (Jati), Soelastri, Soekardi, Soepardjan