Mudik Lebaran, Waktu Tepat Menelusuri Kembali Silsilah Keluarga

Mudik lebaran adalah sebuah tradisi masyarakat yang telah berlangsung turun temurun. Belum sah merayakan Idul Fitri jika tidak mudik ke kampung halaman. Inilah ajang tepat untuk saling berbagi cerita tentang petualangan dan perjuangan sambil mempererat tali silaturahmi.

Anda akan menemui beragam kisah dari tutur kakek, nenek, ayah, ibu, om, tante, sepupu, keponakan, hingga para cucu atau cicit. Kadang terselip juga pertanyaan klasik yang sering menjadi topik pembuka obrolan. Anda sadari atau tidak, suasana seperti inilah yang selalu dirindukan setiap hari raya.  Namun, arti mudik lebaran sebetulnya lebih dalam daripada sekadar temu kangen atau silaturahmi.

Anda bisa berkenalan kembali dengan anggota keluarga besar yang selama ini jarang atau belum pernah bertemu karena tinggal berbeda kota. Begitu pula dengan anak-anak, ini waktunya mereka mengenal saudara-saudara lain dari pihak ayah atau ibu, hingga saudara kakek atau nenek.

 

 

Mudik Lebaran dan Silsilah Keluarga

Bicara soal menyambung tali silaturahmi saat mudik lebaran, boleh jadi Anda akan terkaget-kaget saat bertemu saudara yang selama ini jarang bertemu. Anda juga dibuat tercengang dengan sepupu atau keponakan yang tahu-tahu sudah beranjak remaja. Bahkan, ada yang hendak menikah, sehingga Anda bakal menyandang gelar kakek/nenek jika mereka punya anak kelak.

Silsilah keluarga terus berkembang dari waktu ke waktu dan membuat keluarga Anda semakin bertambah besar dengan adanya pernikahan. Sementara, siklus kehidupan yang tidak terelakkan membuat anggota keluarga datang dan pergi lewat kelahiran dan kematian. Pertanyaannya, pernahkah Anda terpikir untuk mendokumentasikan sejarah keluarga besar secara tertulis? Atau hanya hidup secara lisan lewat cerita dari generasi ke generasi, hingga Anda sadar bahwa ingatan manusia itu terbatas?

Secara naluriah, Anda punya rasa ingin tahu soal relasi dalam keluarga. Misalnya, saat berkunjung ke rumah Tante A bersama orang tua. Anda ingin tahu Tante A ini siapa dan apa hubungannya dengan kedua orang tua. Belum lagi soal latar belakangnya, menikah dengan siapa, anaknya ada berapa, hingga apa pekerjaannya. Itulah mengapa silsilah keluarga penting dibuat dalam sebuah keluarga besar.

Baik dari pihak ayah atau ibu, Anda bisa menelusuri kembali siapa saja anggota keluarga besar dan di mana saja mereka tinggal, lengkap dengan hubungan kekerabatan satu sama lain. Secara umum, silsilah keluarga adalah bentuk sederhana rekaman informasi dalam  bidang kearsipan dan sering disebut administrative history. Silsilah keluarga atau pohon keluarga menyerupai catatan sejarah suatu keluarga yang membantu Anda mengetahui asal usul keluarga.

Silsilah keluarga bukan sekadar bagan, sensus, tanggal lahir, atau hubungan kekerabatan antar anggota keluarga. Bukan cuma sebuah arsip yang memuat ratusan data, tetapi silsilah keluarga merekam pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui para pendahulu. Ini bisa memberikan Anda pemahaman lebih kuat tentang asal usul diri, serta menjadi motivasi untuk memperdalam akar keluarga bagi generasi selanjutnya.

Di berbagai belahan dunia, konsep ini sudah membudaya. Misalnya, di Arab muncul klan-klan besar keturunan tokoh masyarakat. Mereka menghimpun sebagian anggota masyarakat yang ternyata berhubungan darah, seperti Bani Fulan yang berarti anak cucu keturunan Fulan, bagian dari suku bangsa Arab. Di negara barat, konsep ini berkembang menjadi sub disiplin ilmu genealogi, yakni ilmu yang mempelajari tentang silsilah atau keturunan suatu kelompok masyarakat.

Belakangan, menelusuri kembali rumpun keluarga menjadi sebuah tren di Eropa atau Amerika. Ini terbukti lewat kemunculan berbagai situs atau aplikasi pohon keluarga hingga riset sejarah  meneliti siapa leluhur seseorang. Jika Anda mengetik kata “family tree” di Google, maka deretan situs membuat silsilah keluarga secara online muncul. Misalnya, findmypast.co.uk, ancestry.com. familytreenow.com, dan familysearcg.org.

Rata-rata menawarkan layanan riset dan pembuatan silsilah keluarga dengan basis data genealogi. Data yang biasa mereka pakai adalah sensus, catatan kelahiran dan kematian, catatan pernikahan, catatan kependudukan, dan catatan kemiliteran. Begitu Anda terdaftar pada salah satu situs tersebut, Anda bisa menyusuri asal usul keluarga hingga ratusan tahun lampau. Tak hanya nenek moyang, tetapi juga kerabat yang selama ini mungkin tidak Anda kenal.

 

 

Bagaimana dengan silsilah keluarga di Indonesia?

Dalam budaya Jawa, dikenal sebuah ungkapan kepaten obor. Jika diartikan secara harfiah, ungkapan tersebut berarti obor yang mati. Namun, makna mendalam tersirat di baliknya. Ungkapan ini kerap disampaikan para sesepuh soal silsilah keluarga. Jangan sampai Anda tidak mengenali siapa kakek, nenek, ayah, ibu, sepupu, om, tante, anak, cucu, keponakan, hanya karena jarang atau tidak pernah bertemu. Keluarga yang kepaten obor dianggap kehilangan masa lalu, tak beridentitas keluarga, dan dianggap kehilangan harapan masa depan karena jejaknya terabaikan.

Dari berbagai suku bangsa di Indonesia, masyarakat mengenal tiga sistem kekerabatan, yaitu:

 

1. Sistem kekerabatan parental

Pada sistem ini anak menghubungkan diri dengan ayah dan ibunya, serta kerabat ayah dan ibu secara bilateral. Dalam sistem kekerabatan parental berlaku peraturan yang sama mengenai perkawinan, kewajiban menafkahi, penghormatan, dan soal warisan. Sistem kekerabatan ini biasanya berlaku pada suku Jawa, Madura, Sunda, Kalimantan, dan Sulawesi.

 

 

2. Sistem kekerabatan patrilineal

Pada sistem ini keturunan didasarkan pada garis ayah. Anak menghubungkan diri dengan ayah, baik secara garis keturunan atau secara unilateral lewat kerabat ayah dari garis keturunan laki-laki. Biasanya, kedudukan seseorang dari pihak bapak menempati posisi lebih tinggi, sehingga hak-haknya juga lebih banyak. Sistem kekerabatan ini biasa Anda jumpai pada suku Batak dan Bali.

 

 

3. Sistem kekerabatan matrilineal

Berlawanan dengan patrilineal, garis keturunan sistem kekerabatan matrilineal justru mengambil garis ibu. Anak juga menghubungkan diri dengan kerabat ibu sesuai garis keturunan perempuan secara unilateral. Dalam susunan masyarakat, keturunan garis ibu berkedudukan lebih penting dan punya hak lebih banyak, misalnya dalam urusan warisan. Anda bisa menemukan sistem kekerabatan ini pada suku Minangkabau.

Selain mengenal tiga sistem kekerabatan, dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah juga dikenal berbagai sebutan untuk menyebut atau memanggil kerabat. Pemanggilan itu biasanya berdasarkan silsilah keluarga yang ada. Diharapkan, dengan mengenal posisi anggota keluarga lain, Anda bisa memanggil kerabat dengan benar, tidak sampai salah menyebut.

Situasi ini kerap membingungkan mereka yang jarang bertemu dengan kerabat dalam keluarga besarnya. Sebagai contoh, saat berkunjung ke rumah sepupu ayah/ibu, Anda harus memanggil mereka apa? Apakah ayah/ibu Anda lebih tua atau lebih muda dari sepupunya?

Nah, kebingungan itu bisa terjawab lewat pengenalan silsilah keluarga. Sampai titik ini, sudah jelas kan bahwa mudik lebaran itu berkaitan erat dengan menelusuri kembali silsilah keluarga Anda?

 

 

Pentingnya Silsilah Keluarga

Masyarakat Indonesia masih menekankan pentingnya mengetahui silsilah keluarga. Maka, hubungan kekerabatan antar anggota keluarga besar benar-benar dijaga. Anda tentu ingat saat kecil selalu diajak orang tua berkunjung ke rumah sanak saudara yang belum pernah bertemu. Demikian pula ketika mudik lebaran atau hari besar lain seperti pernikahan dan khitanan.

Setiap keluarga akan saling memperkenalkan diri sebagai upaya membangun pemahaman bahwa Anda dan mereka adalah keluarga besar. Lebih lanjut, keberadaan silsilah keluarga penting untuk hal-hal berikut ini.

 

1. Mengetahui akar keluarga

Dengan mengetahui dan memahami asal usul, Anda menemukan jawaban untuk pertanyaan mendasar setiap orang: siapakah saya? Anda tahu berasal dari mana, keturunan siapa, berikut sejarah keluarga. Ini membantu Anda mempunyai identitas diri yang otentik.

 

 

2. Menjaga hubungan dan silaturahmi dalam keluarga besar

Pada dasarnya, manusia tidak bisa hidup sendiri, itulah mengapa manusia disebut makhluk sosial. Menjaga hubungan dan mempererat tali silaturahmi adalah modal terbaik untuk support system Anda. Dalam situasi susah dan senang, mereka siap membantu dan berbagi dengan Anda.

 

 

3. Memperkenalkan sejarah keluarga pada anak

Sebuah penelitian di Emory University, Georgia, Amerika Serikat  pada tahun 2010 menunjukkan anak yang mengenal sejarah keluarganya dengan baik mempunyai self-esteem lebih tinggi dan lebih tangguh dalam menangani efek stres.

Membicarakan sejarah keluarga, seperti siapa orang tua Anda, di mana mereka bertemu, bagaimana dengan kakek nenek Anda, dst, memberikan anak sebuah identitas dan membuatnya mengerti siapa mereka di dunia ini. Anak jadi sadar bahwa ia bukanlah satu-satunya orang terpenting. Dunia tidak berputar di sekeliling anak, tetapi ia adalah bagian dari sebuah keluarga besar, satu mata rantai dari deretan rantai keluarga yang panjang.

 

4. Menjaga garis keturunan guna melestarikan silsilah keturunan keluarga besar ke generasi-generasi berikutnya.

Silsilah keluarga terus berkembang dari waktu ke waktu, mengingat siklus hidup manusia juga berulang kembali. Dengan adanya silsilah keluarga, ini menjadi warisan penting bagi generasi berikut untuk mengetahui siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.

Begitu pula dengan siapa saja kerabat mereka, di mana mereka tinggal, apa hubungan kekerabatannya, dan seterusnya. Maka, risiko kejadian “kehilangan jejak” keluarga atau terputusnya tali silaturahmi dengan sesama anggota keluarga bisa ditekan seminimal mungkin lewat upaya pembuatan silsilah keluarga ini.

 

 

Menelusuri Kembali Hubungan Antarindividu dalam Rumpun Keluarga Besar

Supaya ojo kepaten obor, ada baiknya Anda menggunakan momen mudik lebaran untuk menelusuri kembali hubungan antar individu dalam rumpun keluarga besar. Ini kesempatan yang tepat untuk membuat atau menyusun ulang silsilah keluarga. Penting untuk diingat, pembentukan pohon keluarga bukan semata untuk gaya-gayaan saja. Setiap individu yang lahir di muka bumi adalah bagian dari sebuah klan, sebuah rumpun keluarga besar.

Ini memberi kesempatan pada generasi mendatang untuk terus menjaga tali persaudaraan lewat pengenalan silsilah keluarga besarnya. Ada beberapa cara yang bisa Anda coba untuk menelusuri kembali jejak keluarga besar dan menuangkannya dalam sebuah silsilah keluarga.

 

1. Pahami seberapa besar keluarga Anda

Anda mungkin mengira anggota keluarga yang selama ini dikenal sudah cukup banyak. Kenyataannya, begitu ayah/ibu mengajak berkunjung ke rumah adik nenek dari pihak ibu, Anda bingung karena semua yang ada di rumah itu juga disebut saudara dekat!  Seberapa besar keluarga Anda? Jawabannya tentu relatif. Namun, ini bisa menjadi batasan untuk membuat silsilah keluarga besar.

Ada sebagian orang yang merasa mampu membongkar-bongkar arsip lama untuk tahu lebih dalam soal leluhurnya yang hidup ratusan tahun silam. Anda juga bisa merasa cukup dengan menyusuri silsilah keluarga empat generasi ke atas dan empat generasi ke bawah. Setidaknya, ini masih lebih mudah dicari dan dicatat lewat dokumen keluarga dan/atau wawancara dengan para sesepuh keluarga.

 

2. Dari mana harus mulai mencari dan meriset?

Hal paling mudah adalah memulainya dari keluarga inti Anda. Misalnya, tanya dan catat berapa jumlah saudara ayah dan ibu, berikut nama dan pasangannya. Naik lagi ke atas, siapa nama orang tua ayah dan ibu (kakek/nenek Anda), berapa saudara yang dimiliki. Telusuri lagi hingga buyut.

Begitu pula dengan penelusuran ke bawah. Nama saudara sekandung Anda, berikut pasangan dan anaknya, juga sepupu-sepupu dan keluarga masing-masing. Anda pun bisa mencatatnya hingga generasi ke-4, yaitu canggah. Cara lain Anda juga bisa membangun silsilah keluarga secara horizontal dengan mencatat semua detail yang diceritakan oleh kerabat.

Anda juga bisa mencari tahu apakah ada anggota keluarga yang sudah pernah mendokumentasikan silsilah keluarga sebelumnya. Jika sudah ada, tentu kerja Anda lebih mudah. Cukup memperbarui data lama dan menambah informasi penting terkait kelahiran, kematian, pernikahan, atau perceraian.

 

3. Check, recheck, cross check

Segala sumber yang Anda peroleh terkait penelusuran hubungan antarindividu dalam rumpun keluarga besar harus diperiksa dengan teliti. Misalnya, dari hasil wawancara dengan salah satu sesepuh, disebutkan bahwa kakek buyut Anda dulu menjadi pejabat pemerintah di era kolonial Belanda. Cari berbagai sumber sejarah yang mencantumkan nama kakek buyut atau teliti lagi foto-foto lama milik beliau.

Pendek kata, selalu lakukan check, recheck, dan cross check begitu Anda mendapat informasi penting. Catat dengan baik semua informasi tersebut dan simpan dengan rapi. Ada kalanya Anda merasa jenuh saat mengerjakan silsilah keluarga ini, sehingga butuh waktu jeda.

Jika semua catatan tersimpan rapi, sewaktu-waktu Anda memulainya lagi akan lebih mudah. Bahkan, Anda juga bisa mengajak anak atau keponakan untuk sama-sama membuat silsilah keluarga sesuai kumpulan informasi yang ada.

 

4. Bersiaplah pada perbedaan pendapat

Adalah hal wajar jika dalam upaya penelusuran kembali Anda menemukan informasi berbeda atau bertentangan. Mengapa ini bisa terjadi? Pada zaman dahulu tidak semua orang bisa baca tulis dengan baik. Kebanyakan dari mereka juga mengandalkan ingatan saja alih-alih mencatat semua informasi penting terkait keluarga.

Selalu ada kemungkinan informasi itu berubah-ubah seiring waktu. Maka, mengandalkan dokumen tertulis, hasil wawancara, atau sumber lain bisa melengkapi informasi yang hilang.

 

5. Bersenang-senanglah!

Jangan menganggap upaya pembuatan silsilah keluarga sebagai beban. Anggap saja Anda sedang berkontribusi untuk menjaga keberlangsungan klan keluarga besar. Bersenang-senanglah saat mengumpulkan semua data terkait sejarah keluarga Anda. Mulai dari bernostalgia ketika melihat foto masa kecil, atau muncul rasa penasaran pada sosok-sosok asing tapi familier dalam foto orang tua, kakek nenek, hingga kakek nenek buyut Anda dan sanak familinya.

 

--------------------------

 

Sekarang Anda sudah memahami mengapa mengetahui dan membuat silsilah keluarga itu penting. Mudik lebaran selalu menjadi ajang paling tepat untuk bertatap muka, temu kangen, bernostalgia, dan menjalin kembali tali silaturahmi yang pernah renggang antara anggota keluarga besar. Selain itu, Anda bisa memanfaatkan waktu mudik sebagai sarana memperbarui informasi silsilah keluarga.

Sejatinya, silsilah keluarga tidak pernah usai dibuat. Setiap minggu, bulan, atau tahun pasti ada perubahan. Ini mencerminkan bahwa keluarga Anda terus berkembang. Pada akhirnya, di dunia ini perubahan adalah hal yang pasti. Namun, keluarga besar akan tetap ada di samping Anda untuk berbagi suka dan duka. Jadi, siap berkumpul dengan keluarga besar dalam mudik lebaran kali ini?

Referensi:

  1. “Ten Effective Strategies on How to Build a Family Tree.” Dalam http://www.genealogyintime.com/articles/ten-effective-strategies-on-how-to-build-a-family-tree.html (diakses 15 April 2019).
  2. Kelly Wallace. “Your Ancestor Owned Slaves? Don’t Run From It, Tell Your Kids.” Dalam https://edition.cnn.com/2015/06/03/living/telling-kids-family-history-benefits-feat/index.html (diakses 15 April 2019).
  3. Lilik Istiqoriyah. “Mudik dan Rekonstruksi Administrative History Keluarga.” Dalam https://kabartangsel.com/mudik-dan-rekonstruksi-administratif-history-keluarga/ (diakses 15 April 2019).

----------------------------

 

Mudik Lebaran Semakin Asyik dengan Mobil Klasik

Mudik menggunakan mobil pribadi memang pilihan paling nyaman. Selain hemat, Anda tidak perlu berdesakan di kendaraan umum dan bebas membawa barang apapun yang diinginkan. Waktunya pun menyesuaikan, jika lelah, Anda bisa beristirahat terlebih dahulu. Tidak heran jika beberapa dekade belakangan, mudik menggunakan kendaraan pribadi menjadi salah satu alternatif yang banyak dipilih orang. Apalagi sejak mobil murah diluncurkan beberapa tahun silam. Jumlah angka pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi pun meningkat drastis. Tapi siapa sangka, pada saat mudik lebaran masih ada orang yang setia menggunakan kendaraan klasik, meskipun banyak kendaraan baru yang lebih murah. Menarik bukan?

Baca selengkapnya...

 

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Keluarga Sosrodjojo dan Profil Teh Botol Sosro

Anda tentu tidak asing dengan Teh Botol Sosro, bukan? Minuman teh botol kemasan dari Indonesia ini emang terkenal di saentero negeri. Dengan tagline “Apapun makanannya, minumannya Teh Botol Sosro,”…

Mooryati Soedibyo: Dari Putri Keraton Menjadi "Businesswoman"

Rasanya tak ada wanita Indonesia yang tidak mengenal atau mungkin belum pernah menggunakan kosmetika Mustika Ratu. Kosmetik lokal asli Indonesia tersebut tentu sangat lekat dengan nama pendiri…

Only One in the World

Dalem Balingkang Temple Symbol of Inter-Religious Tolerance in Bali

Have You Ever Seen the Beauty and Peace of Nature? Dalem Balingkang Temple is The Only Answer. Read More...

Tradisi Keluarga

Akulturasi Tradisi Muslim di Bali Saat Ramadhan dan Idul Fitri

Meskipun masyarakat Bali mayoritas memeluk agama Hindu, tetapi hal ini tidak menjadi hambatan untuk menjalin kebersamaan dari pemeluk agama lainnya. Di Pulau Dewata sendiri, sejumlah kampung dengan komunitas Muslim cukup banyak tersebar di beberapa wilayah.

Makam Syech Siti Jenar - Harjamukti, Cirebon, Jawa Barat

"Asal-usul Syech Siti Jenar serta sebab kematiannya masih simpang siur dan ada beberapa versi, begitu pula dengan lokasi makam tempat dia disemayamkan."

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Mas Hoewarman, Mas Oewardojo, Mas Oewardjono, Mas Mochamad Ali
  • Raden Nganten Soemodiwerio (mas rara Sakinah), Mas Rara Sakirah, Mas Rara Soemeni, Mas Soeredjo (Sardjoe), Mas adjeng Soemodiwirio (Mas Rara Soedji), Mas Rara Soewilah, Mas Adjeng Kromoredjo (Mas Rara Sakilah), Mas Adjeng Ronodipoero (Satidjah), Mas Rara…
  • Mas Narin
  • Mas Djaslan (Sastrodiardjo), Soekelan (Sastroandojo)

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...