Sadranan, Tradisi Jelang Ramadhan di Klaten

Indonesia begitu kaya dengan adat istiadat dan tradisi. Di setiap pulau memiliki adat yang berbeda dengan pulau lainnya. Lebih dari itu, dalam satu pulau pun masih terdiri dari banyak provionsi dan kabupaten yang masing-masing memiliki budaya dan tradisi yang berbeda-beda pula.

Salah satunya adalah Kabupaten Klaten yang memiliki tradisi unik jelang Ramadhan, yaitu Sadranan. Tradisi ini hampir dilaksanakan di hampir seluruh wilayah di kabupaten ini. Meski demikian, tidak dipungkiri jika setiap kecamatan atau desa memiliki keunikan sendiri-sendiri. Namun, secara garis besar, tradisi itu memiliki inti yang sama, yaitu ziarah ke makam leluhur.

Sadranan atau oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nyadran berasal dari Bahasa Jawa yang berarti berziarah. Pelaksanaan Sadranan dilakukan setahun sekali yang jatuh pada bulan Ruwah menurut kalender Jawa atau Sya’ban dalam kalender Hijriah. Kata Ruwah sendiri memiliki akar kata arwah atau roh para leluhur. Dari sinilah kemudian dimaknai bahwa sasi Ruwah-Jawa (Bulan Ruwah) adalah bulan untuk mengenang sekaligus mendoakan para leluhur.

Tanggal pelaksanaan Nyadran di Klaten berbeda-beda di setiap tempat, Namun, umumnya prosesi tersebut dimulai dari tanggal 18 Ruwah hingga yang paling terakhir adalah tanggal 29 Ruwah atau sehari sebelum puasa tiba. Dalam pelaksanaannya, mayoritas wilayah di kabupaten ini melaksanakan Sadranan dengan membawa tumpengan serta buah-buahan ke makam. Makanan dengan tumpeng lengkap itu dikenal dengan ambeng.

Selain buah, dalam ambengan itu terdapat pula apem dan ketan. Kedua makanan ini memiliki makna filosofi yang dalam. Apem diambil dari bahasa Arab, yaitu afwan yang berarti ampunan atau minta maaf. Hal ini dimaknai bahwa bulan Sya’ban adalah waktunya meminta maaf kepada sesama sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Pasalnya, untuk melaksanakan puasa Ramadhan hati juga harus bersih dan saling memberi maaf atas kesalahan orang lain.

Tak kalah dari apem, ketan juga memiliki makna mendalam, yaitu merekatkan hubungan persaudaraan. Setibanya di makam, nasi tumpeng tersebut diletakkan disebuah tempat yang memang sudah disepakati bersama. Selanjutnya, warga menuju makam para leluhurnya masing-masing dan berdoa. Menabur bunga pun di makam leluhur pun menjadi hal yang tak bisa dilupakan. Saat tradisi ini tiba, makam-makam menjadi begitu bersih dan setiap makam pun bertabur dengan bunga-bunga.

Umumnya, prosesi Sadranan ditutup dengan tradisi Kenduri. Sesuai dengan kepercayaan Islam, dalam Kenduri itu pun doa yang dipanjatkan adalah doa-doa Islam. Meski dalam pelaksanaan Sadranan setiap orang membawa nasi tumpeng lengkap dengan lauk dan buah-buahan sendiri-sendiri, tetapi tidak berarti mereka kemudian menyantap hidangan yang dibawa tersebut.

Sebaliknya makanan itu dimakan bersama-sama dengan warga lainnya. Menariknya lagi, siapa pun yang kebetulan lewat di area prosesi itu dipersilakan mampir dan mengambil makanan yang ada. Sementara itu, ada pula daerah-daerah yang melaksanakan Sadranan tanpa menggunakan tumpeng atau ambeng. Namun, tradisi tersebut diisi dengan tahlilan dan berdoa bersama di masjid.

Di beberapa daerah pula Sadranan adalah tradisi yang sangat meriah. Saking meriahnya, tradisi ini bahkan lebih riuh dibandingkan dengan Idul Fitri. Masyarakat yang berada di perantauan atau tinggal di luar desa datang kembali ke tempat asalnya bersama dengan keluarga.

Kondisi ini tak pelak membuat suasana menjadi begitu ramai dan seru. Tak jarang ‘reuni dadakan’n atau nostalgia pun terjadi lantaran tradisi ini. Tetangga atau saudara yang tinggal jauh dari kampung halaman datang dan kemudian berkumpul bersama. Semua orang membaur menjadi satu tanpa memandang status sosial. (y)

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Basuki Tjahaja Purnama

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. merupakan seorang politikus Indonesia yang berasal dari Belitung Timur.

Tak Mungkin Bisa Mengubah Nagari Bila Kita Takut Berpikir Besar!

Pria kelahiran Kota Bukittinggi tanggal 05-08-1976 ini sejak kecil tergolong anak yang berbakat dan gaul. Berbagai hal ia lakukan, mulai dari mencari uang jajan sendiri hingga mengikuti banyak…

Only One in the World

Dalem Balingkang Temple Symbol of Inter-Religious Tolerance in Bali

Have You Ever Seen the Beauty and Peace of Nature? Dalem Balingkang Temple is The Only Answer. Read More...

Tradisi Keluarga

Makam Sunan Drajat - Paciran, Lamongan, Jawa Timur

"Lahir pada tahun 1471 dengan nama Raden Qosim, Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel dan bersaudara dengan Sunan Bonang."

5 Sejarah Tradisi di Indonesia yang Lekat dengan Idul Fitri

Sebelum hari Raya Idul Fitri tiba, biasanya umat Muslim di seluruh dunia akan melakukan banyak persiapan dalam menyambut hari kemenangan tersebut. Di Indonesia sendiri, rupanya terdapat beberapa kebiasaan yang sudah sangat mendarah daging untuk dilakukan…

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Raden Soewignjo, Raden Soegih, Raden Sajoeto, Raden Sootio, Raden Soetjipto, Raden Soediro, Raden Sootomo, Raden Rara Asijah, Raden Achmad, Raden Mohamad Salim, Raden Rara Patimah, Raden Abdulkadir
  • Sastrosoepoetro, Soepetanti, Hartati, Hartini, Goembreg, Soemitrati, Soerjadi, Goenoengsoerjanto, Wijadi
  • Soetjanggah, Soekeni, Soepardi, Soekoer, Asmo, Soewarti, Soekewi, Wirjowidjoio, Hardjosemito, Soetami, Kastoredjo, Roekeni, Soekarno, Soekemi, Hastrodiprodjo, Hardi, Nitikoesoemo, Soemodipoero, Mangkoedioero, Soepardi, Nitisoedarmo, Soerjati, Martodimedjo,…
  • Mas Singgih, Mas Soetojo, Mas Rara Patimah, Mas Soemantri, Mas Rara Soertinah, Mas Rara Soemartinah, Mas Rara Soepatmi, Mas Agoes Soedjono, Soebandijah

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...