Tradisi Pacu Jalur Riau Rekatkan Jalinan Silaturahmi Saat Idul Fitri

Saat Idul Fitri, ada begitu banyak pemudik dari luar kota dan pulau yang berduyun-duyun kembali ke kampung halaman mereka. Kabupaten Kuantan Singingi di Riau juga bahkan tidak luput dari fenomena riuhnya mudik Lebaran tersebut.

Berbanding lurus dengan kondisi ibu kota Jakarta saat hari kerja, wilayah Kuantan Singingi atau yang kerap disingkat Kuansing ini juga begitu dipadati oleh para perantau jelang Lebaran. Namun ada keseruan berbeda yang diadakan saat hari kemenangan tersebut, yaitu tradisi Pacu Jalur. Menariknya, tradisi ini memiliki sejarah panjang dalam penyelenggaraannya.

Unsur magis dan mistis juga masih menyelubungi jelang perhelatannya. Acara akbar ini berlokasi di Sungai Batang Kuantan yang membentang hingga dua kecamatan, yaitu Kecamatan Hulu Kuantan dan Kecamatan Cerenti. Lokasinya berada di Tepian Narosa, Kuantan Tengah, Riau yang bisa ditempuh sekitar 3 setengah jam dari Pekanbaru menggunakan mobil.

Tradisi ini sendiri memang kerap diadakan pada hari-hari besar seperti Lebaran hingga peringatan kemerdekaan Indonesia. Bak sebuah magnet, acara ini mampu memanggil kembali para perantau untuk kembali sejenak ke Kuansing demi sekedar menyaksikan atau berpartisipasi dalam lomba. Sedikit sejarah yang mewarnai perhelatannya, pacu jalur diyakini berawal sejak abad ke-17.

Sungai Batang Kuantan sendiri dulunya merupakan jalur transportasi air disebabkan ketiadaan akses darat. Keberadaannya jadi penanda status sosial, dimana banyak yang mengarunginya berasal dari kalangan bangsawan, para datuk serta penguasa daerah. Penyelenggaraan persisnya diperkirakan rutin diadakan sejak awal tahun 1900-an.

Pada zaman penjajahan kolonial Belanda, tradisi ini rutin diadakan untuk memperingati ulang tahun Ratu Wilhelmina. Seiring dengan kemerdekaan Indonesia, perlombaan ini berubah agendanya untuk memperingati 17 Agustus. Tak sembarang diadakan, rentetan ritual dan musyawarah masyarakat menaungi di setiap proses persiapannya.

Salah satunya adalah peran pawang dalam pembuatan jalur (perahu). Panjang perahu harus berkisar 25-30 meter serta memiliki garis tengah 1 hingga 2 meter agar mampu menampung 40 hingga 80 orang. Jenis kayu yang dipilih haruslah memiliki mambang (penunggu makhluk halus).

Dalam penyelenggaraannya, perlombaan ini akan dimulai dengan tiga kali dentuman meriam. Pada dentuman pertama, para peserta akan mulai bersiap di posisi start, lalu pada dentuman kedua para peserta berada pada posisi siap mendayung, barulah pada dentuman yang ketiga perlombaan bisa dimulai.

Melihat kemeriahan yang ditunjukan, tradisi ini merupakan salah satu potensi wisata dari wilayah Riau. Oleh karenanya event ini masuk dalam daftar Calender of Event Kementrian Pariwisata. Meskipun mampu menarik perhatian banyak wisatawan, untuk menyaksikannya para pengunjung tidak akan dipungut biaya.

Pacu Jalur merupakan sebuah pesta rakyat sebagai puncak pencapaian atas kerja keras dalam mencari penghidupan selama setahun. Selain pacu jalur, ragam pertunjukan lainnya juga turut memeriahkan acara besar ini seperti Pertunjukan Sanggar Tari, Pekan Raya, pentas lagu daerah, serta Randai Kuantan Singingi. Oleh karenanya, tak heran event ini selalu diselubungi lautan manusia disebabkan penyelengaraannya memang sangat dinanti oleh segenap masyarakat.

Pelaksanaannya memberi nilai tersendiri bagi banyak orang untuk merekatkan silahturahmi melalui budaya gotong royong. Ajang ini juga mampu mengobati kerinduan para perantau setelah sekian lama jauh dari kampung halaman.

Tak hanya beradu soal siapa yang mampu bertahan hingga babak final pertandingan, festival ini juga menjadi adu keberhasilan ilmu spiritual antar dukun pacu dalam mempersiapkan jalur. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan panjang kayu tidak dipersoalkan oleh para peserta dan juri. (AS)

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Permadi Arya

Permadi Arya atau yang dikenal dengan panggilan Ustad Abu Janda Al Boliwudi merupakan salah satu tokoh yang cukup viral dan kontroversial dalam beberapa tahun ini di Indonesia.

Megawati Soekarnoputri

Berdasarkan silsilah keturunan keluarga, Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau yang lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri adalah salah satu putri Presiden RI pertama,…

Only One in the World

Mekah Temple: A Temple Owned by Balinese Muslims

Recognizing the Mekah Temple in Bali. Bali, as people call it the Island of Gods, is inhabited by mostly Hindu people with lots of temples built in almost its every corner. Read More...

Tradisi Keluarga

Hobi Koleksi Mustika Gaib Peninggalan Nenek Moyang

Indonesia adalah negara yang masih kental dengan mistis. Di negara kita pun terdapat banyak barang-barang pusaka peninggalan nenek moyang kita zaman dulu. Nah, benda-benda mustika gaib itulah yang sering diburu oleh beberapa kalangan.

Makam Sunan Kudus - Kauman, Kudus, Jawa Tengah

"Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota kota kretek lantaran banyaknya pabrik rokok di sini, tapi juga kota santri karena kawasan ini memiliki banyak pondok pesantren."

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Soedjimah, Genoek, Soerodipoero
  • Mas Hoewarman, Mas Oewardojo, Mas Oewardjono, Mas Mochamad Ali
  • Mas Aslan
  • Mas Soedjono, Mas Soemartono, Mas Rara Siti Atidjah, Mas Oetomo

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...