Tradisi Unik Masyarakat Papua Sambut Ramadhan dan Idul Fitri

Tak berbeda dengan tempat lainnya di Indonesia, wilayah Papua memiliki sejumlah warga yang memeluk agama Islam meski dalam lingkup minoritas. Namun begitu, semangat serta ketaatan ibadah mereka tak jauh berbeda dengan Muslim di daerah lainnya.

Jelang Ramadhan misalnya, warga Muslim Papua akan melakukan sebuah tradisi unik khas Papua yaitu bakar batu. Warga yang tinggal di Kampung Mateor, Angkasa, Kota Jayapura adalah salah satu komunitas Muslim Wamena yang rutin menggelar acara ini. Tradisi ini merupakan sebuah ritual masak yang umumnya dilakukan oleh warga pedalaman atau di pegunungan. Namun pada ritual ini mereka tidak mempergunakan daging babi, tetapi mengganti dengan jenis daging yang dianggap halal oleh Islam seperti kambing, ayam atau sapi.

Persiapan ritual ini dimulai dengan membakar batu di atas bakaran kayu hingga membara. Kemudian mereka akan menggali tanah untuk membuat lubang. Batu-batu panas tersebut akan dimasukan ke dasar lubang, kemudian ditumpuk dengan daun pisang dan ilalang dan ditumpuk kembali dengan daun pisang untuk diletakan daging di atasnya. Setelahnya daun pisang akan ditutup dan diberi batu panas lagi kemudian kembali ditutup dengan daun pisang. Ubi jalar, singkong, dan sayuran lainnya akan ditaruh di atasnya untuk dan ditimbun kembali dengan daun, batu panas dan ilalang.

Metode ini memiliki proses pematangan yang mirip dengan cara kerja oven, dimana hawa panas akan mematangkan berbagai bahan yang ada di dalamnya. Seluruh bahan akan dimatangkan selama kurang lebih 3 jam, baru setelahnya bisa mulai disajikan. Pengadaan tradisi ini dilakukan sebagai ajang untuk saling memaafkan kesalahan satu sama lain sebelum memasuki bulan Ramadhan. Berbeda dengan wilayah Nusantara lainnya dimana tradisi maaf memaafkan dilangsungkan setelah Idul Fitri.

Tradisi bakar batu umumnya dilakukan saat ada acara kemasyarakatan seperti pernikahan, syukuran, dan lain sebagainya. Kegiatan ini telah lama diwariskan oleh nenek moyang mereka jauh sebelum memeluk Islam. Pada masing-masing tempat dan suku, penamaan tradisi ini juga berbeda seperti barapen di wilayah Jayapura, Kit Oba Isogoa (Wamena), dan Gapiia (Painai).

Selain tradisi bakar batu, masyarakat Papua Barat tepatnya di Kaimana juga memiliki tradisi unik dalam menyambut Idul Fitri, yaitu Tradisi Hadrat di Kaimana. Baik tua hingga muda akan berkeliling sambil menari diiringi lantunan shalawat dan musik hadrat. Pengadaannya akan dilakukan selama dua hari, dimana pada hari pertama pengelilingan akan dilakukan mulai dari Kampung Sran, Kampung Bumi Surmai, Kampung Anda Air, hingga ke Kampung Kaki Air.

Barulah pada hari berikutnya warga akan berkeliling menggunakan jenis kendaraan baik roda dua maupun roda empat dari Kampung Kroy, Kampung Baru, hingga Kampung Coa. Bak magnet saat pegelaran Hadrat, orang-orang dari seluruh penjuru akan berkumpul untuk ikut larut dalam keseruannya. Banyak juga diantaranya yang akan mengabadikan acara ini dengan menggunakan smartphone mereka. Tanpa khawatir merasa lapar dan haus, sejumlah rumah yang akan dilewati rombongan akan menyediakan makanan dan minuman untuk para peserta.

Tradisi Hadrat juga tidak hanya dilakukan waktu Idul Fitri saja. Saat Idul Adha kemeriahannya juga akan mewarnai hari raya kurban umat Islam tersebut. Menariknya, tak jarang kegiatan ini akan diikuti oleh umat dari agama lain, seperti menari bersama saat suara rebana ditabuhkan. Meskipun memiliki perbedaan dari segi keyakinan, hal tersebut tidak menghentikan seluruh lapisan masyarakat Papua untuk memupuk kebersamaan dalam menjalin toleransi yang tinggi. (AS)

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Megawati Soekarnoputri

Berdasarkan silsilah keturunan keluarga, Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau yang lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri adalah salah satu putri Presiden RI pertama,…

Theodore Rachmat: Konglomerat Nan Dermawan

Bila dibandingkan dengan Budi Hartono, Tahir, atau Chairul Tanjung namanya memang tak begitu populer di kalangan orang-orang super kaya tersebut. Meskipun begitu bukan berarti sosoknya kurang…

Only One in the World

Religious Tourism in Bali? Why Don’t Try Ulun Mumbul Temple?

Ulun Mumbul Temple Springs for Life. Traveling to the island of Bali is a very pleasant tourist experience. Almost every corner there is a statue or as a form of worship and appreciation for Sang Hyang Widi. Read More...

Tradisi Keluarga

Makam Ratu Syarifah Ambami - Buduran, Bangkalan, Jawa Timur

"Kisah Kesetiaan dan Kecintaan Seorang Istri dari Tanah Madura."

Makam Sunan Kudus - Kauman, Kudus, Jawa Tengah

"Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota kota kretek lantaran banyaknya pabrik rokok di sini, tapi juga kota santri karena kawasan ini memiliki banyak pondok pesantren."

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Raden Nganten Wirjo (Tari), Raden Nganten Nitisoedarmo (Jati), Soelastri, Soekardi, Soepardjan
  • Mas Rara Asijah, Mas Rara Aminah, Mas Soengkowo, Mas Rara Soekowati, Mas Soebagio
  • Soetjanggah, Soekeni, Soepardi, Soekoer, Asmo, Soewarti, Soekewi, Wirjowidjoio, Hardjosemito, Soetami, Kastoredjo, Roekeni, Soekarno, Soekemi, Hastrodiprodjo, Hardi, Nitikoesoemo, Soemodipoero, Mangkoedioero, Soepardi, Nitisoedarmo, Soerjati, Martodimedjo,…
  • Mas Soedjono, Mas Soemartono, Mas Rara Siti Atidjah, Mas Oetomo