Silsilah Njai Sakijah, Ibu Mas Behi Kartodikromo

Lanjutan dari: Silsilah Kiahi Djalidin, Ayah Mas Behi Kartodikromo

 

Njai Sakijah atau lebih dikenal dengan nama Njai Sakiman (nama tersebut diambil dari nama kecil Mas Behi Kartodikromo yaitu Sakiman) adalah anak dari Kiahi Sadjidin dan Njai Sadjidin.

 

 

Silsilah Kiahi Sadjidin, ayah Njai Sakijah

Kiahi Sadjidin adalah anak dari Kiahi Adiwidjoijo dari jepara, yang memiliki profesi sebagai blandhong, yaitu penebang kayu di hutan. Kiahi Adiwidjoijo bekerja untuk Raden Toemenggoeng Mangkoeprodjo, Bupati Juwana.

Pada catatan tertanggal 10 Juni 1815 tentang sejarah Juwana yang dibuat oleh para ahli, menerangkan bahwa Bupati Juwana pada masa itu adalah Kiahi Toemenggoeng Soerowikromo, yang kemudian digantikan oleh putranya yaitu Mas Soerohadiwikromo yang menjabat selama 8 tahun.

Setelah itu posisinya sempat digantikan orang lain, sebelum dijabat kembali oleh Raden Toemenggoeng Mangkoeprodjo selama 2 tahun. Selanjutnya, digantikan Mas Toemenggoeng Mangkoedipoero.

 

 

Silsilah Njai Sadjidin, Ibu Njai Sakijah

Njai Sadjidin adalah anak dari Kiahi Dhipotroeno (yunior). Urutan silsilahnya dimulai dari: Kiahi Topo-> Mas Mangoen Koesoemo-> Kiahi Dhipokerti-> Kiahi Dhipotroeno (sepuh/senior)-> Kiahi Dhipotroeno (yunior).

 

Silsilah Mas Dipo, Ayah Kiahi Topo

Urutannya dimulai dari : Kangjeng Panembahan Hagoeng-> Kangjeng Panembahan Sedongrono-> Kangjeng Pangeran Kedaton-> Raden Dhipojoedo-> Mas Dipo.

 

Silsilah Mas Geni, Ibu Kiahi Topo

Urutannya dimulai dari Kangjeng Soenan Kedaton ing Giri-> Kangjeng Soenan Dhalem-> Kangjeng Soenan Prapen-> Kangjeng Panembahan Kawisgoewo-> Memiliki 2 orang anak yaitu: Panembahan Hagoeng dan Panembahan Goenoengganjar.

Panembahan Goenoengganjar-> Panembahan Babat-> Mas Wiromenggolo-> Mas Geni

Selanjutnya, Mas Dipo dan Mas Geni yang terhitung masih satu keturunan yaitu dari Panembahan Kawisguwo, menikah dan memiliki anak yaitu Kiahi Topo.

 

 

Catatan

Bedasarkan tulisan H.J. De Graaf dalam bukunya, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I (judul asli “De regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677”) yang terbit pada 1987, Jepara adalah kota pelabuhan terbesar di Jawa, yang dimiliki oleh Kerajaan Demak.

Bahkan, kabar tentang kemegahan dan kebesaran pelabuhan di Jepara, disaksikan dan diberitakan langsung oleh Tomé Pires, meski dalam hal perdagangan masih kalah dengan pelabuhan Gresik.

Di dalam bukunya, H.J. De Graaf juga menjelaskan tentang suasana menyenangkan di Jepara yang terjadi pada masa itu. Utamanya setelah Panembahan Krapyak, mengundang belanda dan Inggris untuk bekerjasama dalam hal perdagangan.

Belanda kemudian mendirikan kantor dagang pada tahun 1613, dan Inggris menyusul pada tahun 1618. Namun pada perkembangannya, kehadiran kongsi dagang milik Inggris tak disukai oleh Belanda. Puncaknya terjadi pada tahun 1632, ketika beberapa titik kota pelabuhan yang dikuasai oleh kongsi dagang milik Inggris , di gempur oleh Belanda.

Namun berkat jasa Pemimpin Kota Jepara yang notabene dijabat oleh orang Eropa, pertikaian tersebut tidak membesar. Tidak hanya menjaga perdamaian di kota jepara, pemimpin kota Jepara juga berjasa juga dalam merestorasi, merenovasi, dan memulihkan kembali kota pelabuhan yang rusak akibat konflik yang terjadi.