Maimun Zubair

Kyai Haji Maimun Zubair atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Moen lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 di Rembang, Jawa Tengah.

Mbah Moen adalah seorang ulama dan politisi yang disegani. Beliau merupakan salah satu adalah ulama dan kiai yang sangat disegani oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai ulama yang dihormati, Petuah bijak Mbah Moen selalu dinantikan oleh banyak orang.

Tak jarang nasihat-nasihat beliau dijadikan sebagai motivasi bagi banyak orang. Selain masyarakat umum, banyak tokoh-tokoh pemerintahan dan birokrat nasional yang menjadikan Mbah Moen tuntutan. Ingin tahu lebih dekat tentang Mbah Moen dan silsilah keluarga besarnya yang cukup disegani masyarakat? Yuk, disimak.

 

Silsilah Keluarga Maimun Zubair

Kyai Haji Maimun Zubair lahir dari pasangan orang tua Kyai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah binti Kyai Ahmad bin Syua'ib. Mbah Moen adalah putra pertama dari sepuluh bersaudara. Saudara-saudaranya meninggal ketika mereka masih anak-anak.

Ayah Kyai Haji Maimun Zubair, Kyai Zubair Dahlan adalah murid pilihan Syaikh Sa'id Al-Yamani dan Syaikh Hasan Al-Yamani Al-Makky. Mereka adalah ulama terkenal dari Kota Mekah. Sementara itu, sang ibu, Nyai Mahmudah, adalah putri Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang karismatik dan termasyhur pada zamannya.

Sebagaimana terdaftar dalam kartu keluarga, Kyai Haji Maimun Zubair memiliki dua istri. Istri pertama adalah Fahimah, anak perempuan Kyai Haji Baidhowi Lasem. Dari pernikahan dan cinta mereka, mereka memiliki tujuh anak. Empat dari mereka meninggal ketika mereka masih anak-anak. Hanya tiga anak yang masih hidup. Mereka adalah Kyai Haji Abdullah Ubab Maimun, Kyai Haji Muhammad Najih Maimun, dan Neng Shobihah Maimun.

Setelah Fahimah meninggal, Mbah Moen menikah dengan Nyai Masthi'ah, putri Kyai Haji Idris dari Cepu, Blora. Mereka memiliki delapan anak. Mereka memiliki enam putra dan dua putri. Mereka adalah Kyai Haji Majid Kamil, Gus Ghofur, Gus Ro'uf, Gus Wafi, Gus Yasin, Gus Idror, almarhumah Neng Shobihah, dan Neng Rodhiyah. Foto keluarga Mbah Moen beserta anggota keluarga besarnya cukup sulit ditemukan di internet.

 

Pendidikan Kyai Haji Maimun Zubair

Menjadi anak dari ulama Islam yang terkenal dan karismatik membuat Kyai Haji Maimun Zubair menerima pengajaran dan bimbingan langsung dari ayahnya, Kyai Zubair Dahlan sejak ia masih kecil. Mbah Moen belajar berbagai ilmu agama Islam seperti nahwu (tata bahasa Arab), sarf (kosakata bahasa Arab), fiqh (Ilmu hukum Islam), balaghah (ilmu tentang kefasihan bahasa Arab dan cara menyampaikan yang tepat makna sesuai dengan situasi), dan lain-lain.

Dengan didikan ayahnya, Mbah Moen tumbuh menjadi seorang pria yang religius di masa remajanya. Mbah Moen juga telah menghafal beberapa buku, seperti Al-Jurumiyyah, Alfiyyah Ibnu Malik, Imrithi, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, dan Rohabiyyah fil Faroidl.

Ketika Mbah Moen masih remaja, beliau melanjutkan pendidikannya dan mendapatkan pendidikan agama Islam di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Beliau berada di bawah bimbingan Kyai Haji Abdul Karim, Kyai Haji Mahrus Aly, dan Kyai Haji Marzuky.

Ketika Mbah Moen berusia 21 tahun, beliau pergi ke Kota Mekah bersama ayah dan kakeknya. Beliau belajar di bawah bimbingan para ulama termasyhur di Kota Mekah: Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani, dan banyak lagi.

Ketika Mbah Moen kembali dari Mekah, beliau terus belajar dan memperkaya ilmunya dengan berguru kepada para ulama besar di Indonesia seperti Kyai Haji Baidlowi Lasem (ayah mertuanya), Kyai Haji Ma'shum Lasem, Kyai Haji Ali Ma'shum Krapyak dari Yogyakarta, Kyai Haji Bisri Musthofa, Rembang, Kyai Haji Abdul Wahhab Hasbullah, Kyai Haji Mushlih Mranggen, Kyai Haji Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri, dan juga Kyai Haji Abul Fadhol, Senori.

Kyai Haji Maimun Zubair mendirikan Pesantren Al-Anwar Sarang pada tahun 1965. Pesantren ini membuka peluang bagi semua calon siswa di seluruh Indonesia untuk belajar langsung dengannya. Melalui pesantren ini juga, ribuan siswa telah lulus dan menjadi tokoh dan panutan yang terkenal dan berpengaruh di berbagai sektor di Indonesia. Mbah Moen juga menulis beberapa kitab yang digunakan atau menjadi rujukan para santri. Salah satu bukunya berjudul Al-Ulama Al-Mujaddidun.

Sekarang, pondok pesantren ini menjadi lebih maju dan terkenal bagi mereka yang ingin belajar lebih banyak tentang Islam.

 

Karier Politik Kyai Haji Maimoen Zubair

Selain mengabdikan dirinya untuk pengembangan ajaran agama Islam di tanah air, Kyai Haji Maimun Zubair juga mengabdikan dirinya untuk Indonesia dengan terjun ke dunia politik. Mbah Moen pernah menjadi anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) mewakili Kabupaten Rembang selama 7 tahun.

Beliau juga menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mewakili Provinsi Jawa Tengah selama tiga periode. Sampai sekarang Mbah Moen masih aktif menjadi Ketua Majelis Syura Partai Persatuan Pembangunan atau P3.

Sebagai politisi yang disegani dan ulama berpengaruh dari Jawa Tengah, Mbah Moen memiliki hubungan yang dekat dengan tokoh-tokoh nasional dan politisi Indonesia seperti Prabowo, Amin Ra'is, Hamzah Haz, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, Kyai Haji Ma'ruf Amin, dan lainnya.

Banyak politisi datang ke Pesantren Al-Anwar Sarang di Rembang untuk mendengarkan petuah bijak sekaligus meminta restu dari Mbah Moen.

Nah, demikianlah informasi tentang silsilah keluarga Kyai Haji Maimun Zubair beserta pendidikan dan karier politiknya. Semoga informasi ini bermanfaat.

Selanjutnya di kategori ini: « B.J. Habibie H.M. Soeharto »

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Ir. Soekarno (Bung Karno)

Ini adalah silsilah keluarga dari Dr.(H.C.) Ir. H. Soekarno.

Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet merupakan aktivis hak asasi manusia asal Indonesia.

Only One in the World

Puja Mandala: A Religious Spot Center in Nusa Dua

The Beauty of Differences shown in Puja Mandala - Puja Mandala is an exceptional spot in Bali. It is a religious spot center which provides five houses of prayers within an area. From the east, you can find a Protestant church, a Vihara, A church for Catholics and the mosque for Muslims to do the prayers. Read More...

Tradisi Keluarga

Hobi Koleksi Mustika Gaib Peninggalan Nenek Moyang

Indonesia adalah negara yang masih kental dengan mistis. Di negara kita pun terdapat banyak barang-barang pusaka peninggalan nenek moyang kita zaman dulu. Nah, benda-benda mustika gaib itulah yang sering diburu oleh beberapa kalangan.

Ngabuburit di Masjid Lautze Bareng Mualaf Tionghoa Saat Ramadhan

Berkunjung ke wilayah Pecinan di Pasar Baru Jakarta, siapa sangka terdapat sebuah masjid di antara bangunan ruko-ruko lainnya. Masjid ini tepatnya beralamat di Jalan Lautze No.87-89, RT 10/RW 03 Karang Anyar, Sawah Besar, Jakpus.

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Soeroasmoro, Soeparti, Soewono, Nellie, Marjati
  • Mas Rara Asijah, Mas Rara Aminah, Mas Soengkowo, Mas Rara Soekowati, Mas Soebagio
  • Mas Soedarjono, Mas Rara Markamah, Mas Mohamad Oesman, Mas Rara Soetiati, Mas Mohamad Soelaeman
  • Soetjanggah, Soekeni, Soepardi, Soekoer, Asmo, Soewarti, Soekewi, Wirjowidjoio, Hardjosemito, Soetami, Kastoredjo, Roekeni, Soekarno, Soekemi, Hastrodiprodjo, Hardi, Nitikoesoemo, Soemodipoero, Mangkoedioero, Soepardi, Nitisoedarmo, Soerjati, Martodimedjo,…

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...