Eko Putro Sandjojo

"Seorang Pemimpin Yang Berhasil Harus Mampu Mempersiapkan Anak Buahnya Bekerja Dengan Baik Dan Sempurna."

Siapa yang tak kenal dengan Eko Putro Sandjojo? Wajah karismatik pria kelahiran Jakarta, 21 Mei 1965 ini hampir setiap hari menghiasi sejumlah halaman muka media massa cetak dan elektronik nasional.

Baik sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi atau sebagai Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) DPR-RI tahun 2019 dari Partai Kebangkitan Bangsa, untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Bengkulu dengan nomor urut 1.

Dilingkaran  Presiden Joko Widodo, Eko Putro Sandjojo bukanlah pendatang baru. Ia adalah Deputi Tim Transisi Jokowi. Ia juga membawahi kelompok kerja di bidang perdagangan domestik, peningkatan ekspor, ekonomi kreatif, dan percepatan ekonomi di Papua.

Penunjukan Eko sebagai sebagai Menteri PDT Desa dan Transmigrasi tidak hanya dilatari posisi Eko seperti tersebut diatas,  tapi juga pengalamannya yang pernah menjabat sebagai Ketua Tim Asistensi Menakertrans Tahun Anggaran 2010. Dan secara rekam jejak, Eko Putro Sanjoyo juga menguasai sistem bisnis di pedesaan.

Pilihan Presiden Joko Widodo memang tepat, sejumlah prestasi berhasil diraih oleh Eko dalam waktu tidak terlalu lama, antara lain:

  1. Best Achiever in Ministry, atas dasar prestasi, keteladanan, inspirasi, serta kinerja membanggakan yang dilakukan sepanjang tahun 2017.
  2. Rekor MURI yakni rekor pembangunan infrastruktur desa terbanyak dalam kurun waktu tiga tahun.
  3. Rekor MURI kategori perjanjian kerjasama Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan) terbanyak, yaitu lebih dari 200 nota kesepahaman bersama antara kementerian dengan pemerintah kabupaten dan pihak swasta.
  4. Berdasarkan hasil survei Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) masuk zona hijau (terbaik) pelayanan publik tahun 2018. Atas dasar itu, Kemendes PDTT berhasil meraih Predikat Kepatuhan Tinggi tahun 2018 dari ORI.

 

Kisah Masa Kecil

Karier Eko Putro Sandjojo juga terbilang cemerlang, walaupun saat masih belia masuk dalam kategori bengal. Bolos sekolah adalah kebiasaan sehari-hari, termasuk nilai ujian sekolah yang tak pernah lebih dari angka 3. 

Ulahnya semakin menjadi, saat masuk Sekolah Menengah Atas (SMA).  Eko memilih SMA 11 Bulungan Jakarta, namun tak berapa lama kemudian pindah ke SMA 70. Walaupun termasuk sekolah favorit, tak mampu merubah sifatnya, enam bulan sebelum kelulusan ia dikeluarkan dari SMA 70. Akibatnya ia harus mencari sekolah lain dalam waktu yang sudah mepet.

Lembaga pendidikan yang mau menerima adalah SMA 61 Kalimalang, Jakarta Timur.  Sekolah yang merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan UNESCO ini tak juga membuatnya rajin belajar, nilainya masih seperti sediakala.

Prihatin dengan kondisi anak kesayangannya, ibunda Eko Putro Sandjojo membawanya kepada salah seorang psikolog. Berkat upaya, kerja keras dan doa ibunda tercinta, perangainya perlahan-lahan berubah menjadi lebih baik dan akhirnya berhasil lulus dari SMA 61 dengan nilai rata-rata 7 pada tahun 1983.

Rasa percaya dirinya pun timbul dan ia mencoba mendaftar di sejumlah kampus favorit untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Rupanya nasib baik belum berpihak kepadanya. Tak ingin larut dalam kesedihan, Eko memutuskan untuk mendaftarkan ke Politeknik Universitas Indonesia (UI) untuk program diploma, yang ternyata justru memicu kembali perangai buruknya.

Politeknik UI adalah program pendidikan yang mendapat bantuan dari Bank Dunia yang kurikulumnya mengajarkan kedisiplinan ala militer kepada mahasiswanya. Setiap pagi, para siswa diwajibkan untuk lari dua kali putaran lapangan sepakbola, dengan memakai sepatu boot, tas ransel, dan menenteng senapan.

Beberapa kali ia ketahuan membolos dan absen mengikuti latihan rutin ini. Akibatnya ia harus dihukum dengan pelatihan lebih berat, yaitu berlari keliling lapangan sambil dikejar oleh seekor anjing tentara yang sengaja dilepas oleh  gurunya. Trik ini rupanya berhasil membuat Eko bisa berlari lebih cepat.

Dari hukuman itulah Eko mendapat pelajaran berharga bahwa sebenarnya tiap manusia punya kemampuan terpendam lebih dari yang dibayangkan, hanya saja potensi tersebut seringkali terhalang oleh mental kalah sebelum bertanding. Perlahan tapi pasti, Eko Putro Sandojo mulai berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan berhasil lulus dengan nilai memuaskan.

Pelajaran soal disiplin dan kemauan untuk maju yang didapat dari  Politeknik UI terus dibawa dimanapun ia berada. Termasuk saat ia  berhasil mendapat beasiswa dari Bank Dunia, untuk belajar di jurusan Electrical Engineering di University of Kentucky, Amerika Serikat,  pada tahun 1988. Untuk memenuhi kebutuhan hidup harian selama kuliah, Eko bekerja sebagai pengantar koran, ditemani oleh seseorang yang kemudian dipinang menjadi istrinya, Ririn.

Target 4 tahun menjalani pendidikan, mampu diselesaikan hanya dalam waktu 3 tahun saja. Setelah itu Eko bekerja di negara Singapura, yaitu di sebuah perusahaan elektronik. Tapi tidak lama kemudian Eko Putro Sandjojo memilih kembali ke Indonesia untuk memperdalam ilmu keuangan di Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI) dan berhasil menyandang gelar Master of Business Administration pada tahun 1993. Ia juga sempat mengikuti pelatihan kepemimpinan dalam pembangunan pasca konflik pada tahun 2000 di Universitas PBB, Aman, Yordania.

 

Dari Elektro Ke Peternakan

Lulus dari IPMI, Eko Putro Sandjojo yang saat itu berusia 28 tahun, mendapat tawaran pekerjaan sebagai General Manager di PT Indonesia Farming mulai tahun 1994-1997. Ia merasa terpanggil karena ingin membantu orangtuanya yang memiliki saham 5%, untuk mengembangkan perusahaan ini. Kepiawaiannya mengelola perusahaan mulai terbukti di tempat ini.

Dalam waktu satu tahun saja, keuntungan perusahaan yang awalnya sekitar Rp 150 juta per tahun, berlipatganda  10 kalinya yaitu  menjadi Rp 1,5 miliar. "Tangan dingin"nya kemudian menjadi buah bibir dikalangan pengusaha perunggasan dan banyak sekali yang ingin membajaknya. Salah satunya adalah Sierad, yang di kemudian hari berhasil menjadikannya sebagai direktur, dengan tugas mengurus bisnis komersial di lapangan.

Dua tahun kemudian ia dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar lagi, yaitu seluruh operasional Sierad yang selama ini menjadi tanggung para ekspatriat.  Pasca krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998, memang menyebabkan banyak sekali ekspatriat yang kembali kenegara masing-masing.

Namun kondisi perusahaan ketika itu cukup rumit, Sierad terlilit utang ke sejumlah bank BUMN. Menurutnya, lini bisnis Sierad terlalu besar dan dari segi keuangan tak mampu membiayainya. Sierad tidak memiliki modal untuk investasi dan hanya sibuk menutupi kerugian sejumlah anak perusahaan peternakan tersebut. Sejak tahun 1997 sampai 2005, sejumlah anak usaha Sierad mengalami kerugian rata-rata Rp 100 miliar sampai Rp 200 miliar per tahun. Sementara utang sudah membengkak sampai Rp 2,7 triliun.

Langkah yang diambil adalah melepas perusahaan-perusahaan yang merugi dan hanya berfokus pada bisnis inti. Untuk membantu menjalankan kembali perusahaan, Eko Putro Sanjoyo menarik orang-orang hebat di bidang peternakan. Terbukti, dalam waktu satu tahun saja Sierad mampu mencatatkan keuntungan Rp 50 miliar. Namun entah karena alasan apa, setelah itu ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang berhasil diselamatkannya, dan memilih untuk menjadi Direktur Utama PT Humpuss.

"Jodoh Tak Kan Kemana" demikian kata pepatah, yang ternyata berlaku pula untuk  Eko Putro Sandjojo. Tahun 2009, ia kembali ke Sierad untuk menjabat  sebagai Wakil Direktur Utama. Setahun kemudian menejemen Sierad  mengangkatnya sebagai Direktur Utama. Jika dihitung dari awal bekerja, Eko Putro Sandjojo sudah membangun karier selama 15 tahun di Sierad.

Ketika ditanya apa yang membuatnya sukses memimpin perusahaan sekelas Sierad, ia mengungkapkan 2 hal yaitu:

  1. Setiap kesempatan adalah peluang, maka manfaatkan semaksimal mungkin.
  2. Perlakukan semua karyawan sebagai rekan, dan berdayakan potensi setiap individu sesuai talentanya masing-masing, maka karyawan akhirnya menjadi pendukung yang kuat bagi dirinya sendiri.

Dengan 2 hal tersebut ia merasa selalu mendapat kekuatan dan dukungan dari semua karyawan saat mengelola Sierad.

 

Karier Politik

Sukses di dunia bisnis tak membuat Eko Putro Sandjojo berpuas diri. Ia memiliki keinginan untuk membangun nusa dan bangsa. Langkah yang ditempuh  adalah  bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Di PKB Eko dipercaya untuk menduduki posisi sebagai Bendahara Umum. Dari partai inilah akhirnya ia menjadi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sejak tanggal 27 Juli 2016.

Perjuangan PKB untuk meminta Eko menjabat sebagai Menteri pun punya kisah yang tak kalah menarik. Sebenarnya sudah cukup lama ia diminta untuk menjadi menteri mewakili PKB, namun karena sifat low profile nya membuat ia selalu menolak berbagai jabatan yang berhubungan dengan banyak orang.  Ketika pada akhirnya Eko memutuskan untuk menerima tawaran tersebut pun dinyatakan hanya beberapa jam sebelum batas akhir.

Hal yang sama terjadi juga saat PKB memintanya untuk menjadi calon anggota DPR pada Pemilu 2019. Secara pribadi ia menyatakan belum ada niat untuk nyaleg karena masing ingin mengurus partai dan menyelesaikan pekerjaan sebagai menteri.

Namun demikian,  PKB tetap mendaftarkan Eko Putro Sandjojo sebagai anggota legislatif (Bacaleg) DPR-RI, Daerah Pemilihan (Dapil) Bengkulu, dengan nomer urut 1. Majunya Eko, diharapkan  akan membawa semangat baru untuk PKB, dan nantinya ada keterwakilan provinsi Bengkulu yang duduk di Senayan

eko 5

 

Demikian kisah singkat tentang Eko Putro Sandjojo yang kami rangkum dari berbagai sumber, antara lain:

Silsilah Keluarga Para Tokoh Nasional

Jusuf Kalla

Tidak banyak orang yang mampu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dalam dua periode pemerintahan.

Theodore Rachmat: Konglomerat Nan Dermawan

Bila dibandingkan dengan Budi Hartono, Tahir, atau Chairul Tanjung namanya memang tak begitu populer di kalangan orang-orang super kaya tersebut. Meskipun begitu bukan berarti sosoknya kurang…

Only One in the World

Donate Now, and Become Part of the Founder of This Wonderful Icon

Sometimes we just don’t know how to become part of something important to a city. Volunteering or join a community for a good cause is certainly one way to make an impact and become part of something important. Another option is through donation and there is an opportunity for you to become part of the founder of a Wonderful Icon in Bali, Parsada Jagaddhita. Here is what Parsada Jagaddhita is and how you can donateto contribute to this project. Read More...

Tradisi Keluarga

Tradisi Pacu Jalur Riau Rekatkan Jalinan Silaturahmi Saat Idul Fitri

Saat Idul Fitri, ada begitu banyak pemudik dari luar kota dan pulau yang berduyun-duyun kembali ke kampung halaman mereka. Kabupaten Kuantan Singingi di Riau juga bahkan tidak luput dari fenomena riuhnya mudik Lebaran tersebut.

Makam Sunan Prapen - Kebomas, Gresik, Jawa Timur

"Sunan Prapen merupakan raja ke-4 dari Giri Kedaton, sebuah kerajaan Islam di Gresik."

Adakah Keluarga Anda Pada Daftar Nama Dibawah Ini?

  • Mas Abdoellah, Mas Rara kalimah, Mas Rara Soejatmi
  • Mas Singgih, Mas Soetojo, Mas Rara Patimah, Mas Soemantri, Mas Rara Soertinah, Mas Rara Soemartinah, Mas Rara Soepatmi, Mas Agoes Soedjono, Soebandijah
  • Sarmi, Raden Koesoemoredjo (Slamet), Raden Soerohadiardjo (Soetarno)
  • Mas Rara Soetami, Mas Rara Hasri, Mas Sajoekti, Mas Soesatio, Mas Rara Slamet, Mas Soeketi

sultan

Kisah Sultan Yang Masuk ke Laut Menggunakan Mobil

Sultan Hamengku Buwono IX, tak banyak bicara tentang pengalaman batin yang dialami. Namun demikian banyak orang meyakini bahkan menjadi saksi berbagai hal mistis, misterius dan diluar nalar pernah terjadi yang berkaitan dengan Dorodjatun-nama kecil Sultan. Misalnya kisah tentang Sultan masuk ke laut selatan dengan mengendarai sebuah mobil merah tanpa kap.

Baca selengkapnya...